Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur untuk meningkatkan penggunaan telur ayam ras dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil menyusul anjloknya harga telur di tingkat peternak Kabupaten Magetan pada Sabtu (9/5/2026).
Keputusan strategis tersebut bertujuan untuk mempercepat penyerapan produksi lokal dan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Berdasarkan laporan dari Money, instruksi ini dikeluarkan sebagai respons langsung terhadap aksi damai para peternak yang memprotes ketimpangan biaya produksi dengan harga jual di pasar.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan komitmen lembaga dalam membantu para peternak yang tengah menghadapi tekanan kenaikan harga pakan dan penurunan harga jual hasil ternak mereka.
"Kami telah menginstruksikan seluruh SPPG di Jawa Timur untuk mengoptimalkan penggunaan telur dalam menu MBG, sehingga dapat membantu meningkatkan penyerapan telur peternak dan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen," kata Nanik dalam keterangan resmi.
Penambahan porsi telur dalam program tersebut diharapkan mampu memberikan stimulus ekonomi yang signifikan bagi wilayah terdampak. Satgas MBG Kabupaten Magetan kini menyepakati penggunaan telur sebanyak tiga kali dalam seminggu, meningkat dari frekuensi sebelumnya yang hanya dua kali.
"Program MBG memang dirancang tidak hanya untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, termasuk peternak ayam petelur," ujar Nanik.
Kebijakan pengadaan bahan pangan ini tetap mengedepankan prinsip ekonomi lokal dengan memprioritaskan pembelian dari peternak wilayah setempat. Hal ini dimaksudkan agar perputaran modal tetap berada di lingkup masyarakat sekitar SPPG bertugas.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan harga telur di kandang wilayah Magetan berada pada kisaran Rp 22.000 hingga Rp 22.800 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) produsen sebesar Rp 26.500 dan HAP konsumen senilai Rp 30.000 per kilogram.
Rendahnya serapan pasar memicu kekhawatiran para pelaku usaha mengenai penumpukan stok yang dapat memperburuk situasi harga di masa mendatang.
"Kalau ini tidak segera diatasi, stok akan semakin banyak dan harga bisa makin jatuh," kata Teguh Wahyudi, salah seorang peternak usai mediasi di Dinas Peternakan Magetan, Selasa (6/5/2026).