BI Jaga Stabilitas Rupiah Melalui Tujuh Langkah Strategis

BI Jaga Stabilitas Rupiah Melalui Tujuh Langkah Strategis

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memastikan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tetap berada dalam kondisi stabil melalui serangkaian intervensi kebijakan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta pada Kamis (7/5/2026).

Dilansir dari Detik Finance, nilai tukar mata uang Garuda pada penutupan perdagangan hari ini berada di level Rp 17.333 per US$. Angka tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang tercatat mencapai US$ 148,2 miliar per Maret 2026, yang dinilai lebih dari cukup untuk menjaga ketahanan eksternal.

"Nilai tukar rupiah juga stabil dengan langkah-langkah BI. Tingkat pelemahan rupiah sudah terjaga sebanding dengan negara lain," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Perry menjelaskan bahwa kondisi modal asing menunjukkan tren positif dengan aliran masuk mencapai US$ 3,3 miliar hingga 30 April 2026. Arus modal tersebut terutama masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), setelah sebelumnya terjadi aliran keluar sebesar US$ 1,7 miliar pada triwulan I.

"Aliran masuk modal asing yang hingga 30 April mencapai US$ 3,3 miliar terutama pada instrumen SRBI dan SBN setelah di trilwulan I ada outflow US$ 1,7 miliar," kata Perry Warjiyo.

Bank Indonesia telah merumuskan tujuh jurus penguatan nilai tukar yang juga telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Strategi pertama mencakup intervensi tunai secara berkesinambungan melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Langkah kedua berfokus pada upaya menarik modal masuk melalui instrumen SRBI.

Selain itu, BI berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Tercatat sejak awal tahun 2026, otoritas moneter telah merealisasikan pembelian SBN sebesar Rp 123,1 triliun sebagai langkah stabilisasi pasar. Pihak bank sentral juga menjamin likuiditas di sektor perbankan dan pasar uang tetap melimpah dengan pertumbuhan uang primer mencapai 14,1%.

Kebijakan ketat juga diterapkan pada pasar domestik dengan membatasi pembelian dolar tanpa aset pendasar (underlying assets). Batas pembelian yang sebelumnya US$ 50 ribu per bulan akan segera diturunkan menjadi US$ 25 ribu per bulan. Langkah ini dibarengi dengan penguatan intervensi pada pasar Offshore NDF guna mengendalikan fluktuasi di luar negeri.

Upaya terakhir dalam rangkaian strategi tersebut adalah peningkatan pengawasan terhadap institusi perbankan maupun korporasi. Fokus pengawasan diarahkan pada entitas yang memiliki volume aktivitas pembelian Dolar AS dalam jumlah tinggi untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing.

Artikel terkait

Rekomendasi