BI Naikkan BI Rate Jaga Stabilitas Rupiah dari Tekanan Global

BI Naikkan BI Rate Jaga Stabilitas Rupiah dari Tekanan Global

Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang tertekan oleh gejolak global. Langkah pengetatan moneter di luar ekspektasi pasar ini dinilai memperkuat kredibilitas bank sentral, seperti dilansir dari Medcom.

Ekonom Mirae Sekuritas Indonesia, Jessica Tasjjawa, menilai kebijakan tersebut mencerminkan arah moneter yang ketat dalam jangka panjang. Penyesuaian suku bunga acuan ini menjadi respons langsung terhadap pelemahan nilai tukar domestik.

"Kenaikan BI Rate ini terutama diarahkan untuk menjaga stabilitas Rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik aset domestik di mata investor," ujar Jessica Tasjjawa, Ekonom Mirae Sekuritas Indonesia.

Sebelum keputusan diambil, mata uang Rupiah tercatat melemah sekitar 2,2 persen secara month-to-date mendekati level Rp17.700 per dolar AS. Depresiasi tersebut dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, kekhawatiran defisit fiskal, serta tingginya kebutuhan valuta asing musiman untuk repatriasi dividen dan ibadah Haji serta Idul Adha.

Secara year-to-date hingga April 2026, nilai tukar Rupiah sudah merosot sekitar 6,2 persen sehingga menjadi salah satu mata uang terlemah di regional. Guna meredam volatilitas pasar, Bank Indonesia menguras cadangan devisa hingga USD10,3 miliar untuk melakukan intervensi pasar valuta asing.

Di pasar obligasi, investor asing membukukan arus modal keluar dari Surat Berharga Negara sebesar Rp11,1 triliun hingga April 2026. Namun, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia justru mencatat aliran modal masuk sebesar Rp76,2 triliun setelah imbal hasilnya naik 153 basis poin.

Mirae Sekuritas Indonesia melihat Bank Indonesia kian mengandalkan instrumen moneter tersebut demi memelihara daya saing aset finansial dalam negeri. Selain itu, kebijakan kenaikan suku bunga bertujuan meredam potensi lonjakan inflasi dari sektor harga yang diatur pemerintah.

Konflik geopolitik global dilaporkan mendongkrak harga minyak mentah dunia sebesar 78,4 persen secara tahunan hingga mencapai USD109,7 per barel. Setiap kenaikan satu persen harga minyak berpotensi mengerek harga batu bara sebesar 1,2 persen, nikel 0,5 persen, dan logam lainnya 0,3 persen.

Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat bauran kebijakan dengan menjaga likuiditas pasar, menambah insentif makroprudensial, serta memperluas intermediasi perbankan. Koordinasi kebijakan bersama pemerintah juga ditingkatkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik.

Nilai tukar Rupiah diproyeksikan mulai stabil pada semester II 2026 apabila tekanan geopolitik global mereda. Bank Indonesia diperkirakan tetap mempertahankan BI Rate pada level 5,25 persen hingga akhir tahun 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi