BI Optimalkan Transaksi Mata Uang Lokal Tekan Ketergantungan Dolar AS

BI Optimalkan Transaksi Mata Uang Lokal Tekan Ketergantungan Dolar AS

Bank Indonesia terus mengoptimalkan penerapan local currency transaction atau LCT antarnegara mitra dagang guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Mekanisme penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal melalui bank Appointed Cross Currency Dealers ini diharapkan mampu mendorong efisiensi biaya transaksi regional.

Urgensi diversifikasi eksposur valuta asing ini kian meningkat setelah adanya pengumuman tarif impor oleh Amerika Serikat pada 2025. Data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi LCT sepanjang Januari hingga April 2026 telah menembus angka setara US$22,61 miliar, melonjak sebesar 309 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai US$7,33 miliar.

Sistem ini mencatatkan porsi penggunaan terbesar oleh negara China sebesar 89 persen, diikuti Jepang 6 persen, dan Malaysia 3 persen. Pertumbuhan volume transaksi LCT tercatat konsisten dari setara US$2,53 miliar pada 2021 menjadi US$25,72 miliar sepanjang tahun 2025, dengan rata-rata bulanan pelaku usaha melonjak dari 497 pelaku pada 2021 menjadi 9.720 pelaku pada 2025.

"Bukan kami menghindari dolar AS, karena kami tahu global itu masih [menggunakan dolar]. Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung dengan domestik, kenapa harus pakai dolar dulu, karena kalau muter sudah pasti ada middle-man, sudah pasti enggak efisien. Itu inti dari LCT sebenarnya," jelas Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy dalam pelatihan wartawan di Makassar, Jumat (22/5/2026), seperti dilansir dari Bisnis.com.

Hingga saat ini, Bank Indonesia telah menandatangani kesepakatan LCT dengan bank sentral Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab sejak tahun 2018. Importir dan eksportir dari negara-negara tersebut dapat langsung bertransaksi menggunakan mata uang lokal setelah membuka rekening khusus di bank ACCD negara mitra.

"Ini to be implemented dalam waktu dekat adalah SGD, [Rupee] India dan [Riyal] Arab Saudi," pungkas Ruth A. Cussoy.

Langkah ekspansi ke Arab Saudi secara khusus ditujukan untuk meredam tekanan musiman terhadap rupiah akibat tingginya permintaan dolar AS selama musim haji berlangsung. Penggunaan mata uang unilateral dalam kegiatan ekspor-impor konvensional selama ini dianggap telah masuk ke dalam ranah struktural ekonomi Indonesia.

“Momen haji memang masih bergantung dengan dolar. Justru itu, kita ingin berubah, kita ingin punya LCT dengan Saudi Arabia,” ungkap Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama, sebagaimana dilaporkan Republika.co.id.

Pihak otoritas moneter saat ini sedang merumuskan panduan operasional bersama dengan bank sentral Singapura dan India sebelum implementasi penuh dijalankan. Penjajakan ini dinilai krusial mengingat tekanan pelemahan kurs garuda terus membayangi pasar domestik.

“Itu sedang kami usahakan ya,” tegas Ruth A. Cussoy Intama.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengonfirmasi adanya penyusutan nilai tukar rupiah yang melampaui angka 5 persen secara year-to-date sepanjang tahun berjalan 2026. Kurs rupiah dilaporkan melemah terhadap mayoritas mata uang utama Asia seperti Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, Yuan China, dan Dolar Hong Kong, dan hanya menguat terhadap Rupee India.

"Yang paling dalam kita melemah terhadap Ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Singapura dolar, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan," jelas Josua Pardede.

Selain sentimen global, depresiasi rupiah dipicu oleh siklus triwulan kedua seperti remitansi dividen korporasi, pelunasan utang luar negeri, dan pembiayaan operasional ibadah haji. Oleh karena itu, pengadopsian sistem LCT secara masif dianggap mendesak untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

"Makanya memang kita juga perlu menggalakkan tadi namanya LCT, jadi saya juga menyuarakan juga LCT. Sekalipun memang juga harapannya pun kita juga mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi