BI Perluas Instrumen RIM untuk Longgarkan Likuiditas Perbankan

BI Perluas Instrumen RIM untuk Longgarkan Likuiditas Perbankan

Bank Indonesia memperluas cakupan instrumen dalam komponen Rasio Intermediasi Makroprudensial untuk memperlebar ruang pengelolaan dana perbankan. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas likuiditas sekaligus mengoptimalkan fungsi intermediasi, seperti dikutip dari Keuangan.

Corporate Secretary BTN Ramon Armando menjelaskan bahwa penambahan instrumen tersebut memberikan fleksibilitas bagi perbankan. Secara industri, kebijakan ini berpotensi meningkatkan rasio RIM karena tersedianya alternatif penempatan likuiditas yang diakui regulator.

“Dengan adanya tambahan instrumen yang dapat diperhitungkan dalam komponen RIM, ruang pengelolaan dana bank menjadi lebih luas sehingga dapat membantu menjaga stabilitas likuiditas sekaligus mendukung fungsi intermediasi,” ujar Ramon kepada Kontan, Jumat (22/5).

Kebijakan perluasan surat berharga ini dinilai membantu bank menyelaraskan pendanaan dan penyaluran modal. Perbankan dapat lebih fleksibel menjaga keseimbangan antara tingkat likuiditas, biaya dana, serta ekspansi kredit yang disalurkan.

Bank Indonesia sendiri menetapkan aturan yang mewajibkan sektor perbankan untuk mempertahankan rasio intermediasi mereka pada rentang 84% hingga 94%.

Meskipun ruang likuiditas melonggar, Ramon menegaskan bahwa kebijakan baru dari bank sentral ini tidak serta-merta langsung mendongkrak penyaluran kredit secara instan.

"Dampaknya terhadap percepatan pertumbuhan kredit tidak bersifat otomatis karena penyaluran kredit tetap mempertimbangkan kondisi permintaan pasar, kualitas debitur, serta prinsip kehati-hatian," katanya.

BTN memilih tetap fokus memacu pertumbuhan kredit yang sehat, terutama pada segmen perumahan yang menjadi bisnis inti perseroan. Saat ini, posisi RIM BTN dilaporkan masih berada dalam koridor yang aman dan dapat dikelola dengan baik.

Manajemen BTN terus memantau pergerakan likuiditas secara hati-hati di tengah fluktuasi pasar dan pergerakan suku bunga. Penyaluran dana ke sektor produktif yang optimal tercermin dari tingginya rasio intermediasi.

Guna menjaga ketahanan neraca, BTN memperkuat strategi diversifikasi pendanaan dan peningkatan rasio dana murah. Langkah ini didukung pengelolaan jatuh tempo aset liabilitas serta optimalisasi instrumen pasar uang.

“Perseroan juga secara aktif melakukan stress test dan monitoring likuiditas untuk memastikan ketahanan neraca tetap terjaga,” ujar Ramon.

Pada kesempatan sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan perluasan cakupan RIM dirancang khusus untuk memperbesar kapasitas intermediasi perbankan nasional.

“Kami mendorong pemenuhan 84% sampai 94% ini adalah memperluas cakupannya dari sisi liabilities atau funding, kami memperluas cakupannya tidak hanya dana pihak ketiga yang tradisional seperti giro, tabungan, deposito, tapi juga penerbitan sekuritas surat berharga, baik konvensional maupun syariah,” jelas Perry.

Artikel terkait

Rekomendasi