Bank Indonesia (BI) memprakirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2026 berada di level 231,0 untuk menjaga stabilitas kinerja penjualan eceran nasional. Angka ini didorong oleh pertumbuhan positif pada kelompok suku cadang, aksesori, serta perlengkapan rumah tangga pada Kamis (14/5/2026) sebagaimana dilansir dari Suara.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, menjelaskan bahwa meski tahunan menunjukkan tren positif, penjualan eceran bulanan pada April 2026 diprediksi terkontraksi sebesar 10,0 persen (mtm). Penurunan ini dipicu oleh normalisasi konsumsi masyarakat setelah berakhirnya puncak perayaan Idulfitri 1447 H.
"Kinerja penjualan eceran yang terjaga ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih solid di beberapa sektor prioritas, meskipun terdapat pola musiman pasca-hari raya," ujar Ramdan Denny, Direktur Eksekutif Komunikasi BI.
Penurunan pada April tersebut kontras dengan capaian Maret 2026 yang mencatatkan IPR sebesar 256,7 dengan pertumbuhan bulanan melonjak 10,3 persen (mtm). Peningkatan signifikan pada bulan sebelumnya dipengaruhi oleh tingginya permintaan komoditas makanan, minuman, dan tembakau selama periode Ramadan.
Selain proyeksi penjualan, bank sentral memberikan peringatan terkait potensi peningkatan tekanan inflasi pada Juni dan September 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni tercatat sebesar 175,6, sementara untuk September diprediksi mencapai 163,2.
"Kinerja penjualan eceran yang terjaga ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih solid di beberapa sektor prioritas, meskipun terdapat pola musiman pasca-hari raya," ujar Ramdan Denny, Direktur Eksekutif Komunikasi BI.
Kenaikan indeks harga tersebut lebih tinggi dibandingkan periode Mei dan Agustus 2026 yang masing-masing berada di angka 157,4 dan 157,2. Ramdan Denny memberikan penjelasan tambahan mengenai faktor pendorong kenaikan harga yang mungkin terjadi di tingkat pedagang.
"Kinerja penjualan eceran yang terjaga ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih solid di beberapa sektor prioritas, meskipun terdapat pola musiman pasca-hari raya," ujar Ramdan Denny, Direktur Eksekutif Komunikasi BI.
Peningkatan tekanan inflasi tersebut dipicu oleh ekspektasi kenaikan harga bahan baku dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini diprediksi akan memengaruhi penyesuaian harga jual pada level pengecer di pasar domestik.