Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bogor menyebar 80 unit kamera trap untuk mendata populasi macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Langkah pemantauan ini dilakukan di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Kecamatan Ciemas, sejak tiga minggu terakhir.
Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, program pendataan ini merupakan hasil kolaborasi dengan lembaga konservasi Sintas. Tujuan utamanya adalah memperoleh data akurat terkait jumlah predator puncak yang masih mendiami habitat alaminya di wilayah tersebut.
Kepala Resort Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Iwan Setiawan, memberikan rincian bahwa operasional alat pemantau ini akan berlangsung selama dua bulan ke depan. Fokus kegiatan mencakup sensus menyeluruh terhadap individu macan tutul jantan maupun betina.
"Tujuan pemasangan kamera trap ini untuk monitoring. Kami ingin tahu sebenarnya ada berapa ekor macan tutul di dalam kawasan. Kalau bahasa ilmiahnya, ini adalah sensus," ujar Iwan, Kamis (7/5).
Meskipun masa pemantauan masih berlangsung, petugas sempat melihat rekaman visual awal saat melakukan perbaikan teknis pada salah satu perangkat di lapangan. Data utuh baru akan ditarik setelah masa pemantauan dua bulan selesai untuk kemudian dianalisis lebih lanjut.
"Kemarin waktu saya cek karena ada sedikit trouble di salah satu kamera, itu sebenarnya sudah ada yang tertangkap (kamera). Tapi itu belum bisa jadi acuan karena belum waktunya penarikan data," ungkap Iwan.
Pihak BKSDA sengaja tidak melakukan pengecekan perangkat secara rutin setiap minggu. Kebijakan ini diambil demi menjaga agar perilaku alami satwa liar di kawasan tersebut tidak terganggu oleh keberadaan manusia.
"Hasil validnya nanti setelah dua bulan. Memori akan dibuka semua, mungkin bukan cuma macan, tapi satwa lain seperti kancil, babi hutan, atau bahkan kerbau mungkin saja terekam," tambah Iwan.
Teknis penempatan kamera trap dilakukan pada jalur-jalur perlintasan yang terbuka, baik yang sering dilalui manusia maupun hewan ternak seperti kerbau. Strategi ini dipilih karena macan tutul memiliki karakteristik sering menggunakan jalur yang sama saat berpindah tempat atau berburu.
"Pemasangannya itu di jalur-jalur yang memang terbuka. Jalur orang lewat atau jalur kerbau, di situ kami pasang," jelas Iwan.
Selain lokasi, faktor ketinggian kamera juga diperhatikan secara presisi guna mendapatkan visual postur tubuh satwa secara utuh. Perangkat pengintai ini dipasang pada batang pohon dengan jarak tertentu dari permukaan tanah agar sejajar dengan tinggi fisik target pemantauan.
"Ketinggiannya sekitar 60 sampai 80 senti dari dasar tanah ke pohon. Posisi ini paling ideal untuk menangkap postur tubuh macan tutul secara jelas saat melintas," tambah Iwan.
Guna mengamankan alat dari potensi pengrusakan atau pencurian, petugas memasang tanda peringatan resmi di setiap titik lokasi. Mengingat jalur tersebut juga diakses oleh masyarakat lokal, sosialisasi melalui papan informasi dilakukan agar alat tetap aman selama proses sensus.
"Ada kertas perhatian yang kami laminating. Isinya peringatan bahwa di area tersebut sedang dilakukan pengawasan macan tutul dan alat tidak boleh diganggu. Ada warning-nya lah di situ," tegas Iwan.