Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat pada Kamis, 21 Mei 2026 pagi.
Guncangan tersebut terdeteksi pada pukul 04.04 WIB dengan pusat gempa berada di kedalaman 13 kilometer. Berdasarkan data BMKG, titik koordinat gempa terletak di 8.16 Lintang Selatan dan 108.24 Bujur Timur, atau berjarak sekitar 58 kilometer dari arah barat daya Kabupaten Pangandaran.
"Gempa Mag:4.6, 21-May-2026 04:04:57WIB," tulis BMKG melalui akun X resminya.
Hingga saat ini, lembaga pemantau cuaca dan kegempaan tersebut belum merilis rincian mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas tektonik di Pangandaran.
"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG menjelaskan sifat data awal tersebut.
Sebelum insiden di Pangandaran, gempa dangkal berkekuatan magnitudo 4,5 lebih dulu melanda wilayah Kabupaten Sukabumi pada Minggu malam, 18 Mei 2026. Getaran tersebut terasa kuat hingga ke wilayah tetangga, sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur melakukan pendataan dampak tertulis.
Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat mengonfirmasi bahwa tidak ada kerusakan fisik yang dilaporkan berdasarkan data sementara, namun guncangan memicu kepanikan warga di beberapa kecamatan seperti Gekbrong, Warungkondang, Cilaku, Cianjur, dan Cugenang.
"Gempa yang terjadi Minggu malam sempat membuat panik warga di sejumlah wilayah, namun warga kembali ke rumah setelah beberapa puluh menit bertahan di luar rumah guna memastikan tidak ada gempa susulan," kata Asep Sudrajat.
Berdasarkan laporan BMKG, pusat gempa Sukabumi tersebut berada pada koordinat 7,53 derajat Lintang Selatan dan 106,72 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 28 kilometer. Selain kepanikan di area pemukiman, kepanikan juga melanda fasilitas publik seperti puskesmas dan rumah sakit di mana keluarga pasien sempat berlarian keluar gedung.
"Kami menyiagakan petugas dan 360 relawan guna melakukan pengawasan, pelaporan serta melakukan mitigasi kerawanan bencana di wilayah masing-masing termasuk menjelang pergantian musim dari hujan ke panas," tutur Asep Sudrajat mengenai langkah kesiapsiagaan personelnya.
BPBD Cianjur mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, terlebih karena wilayah tersebut masih menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di kawasan bantaran sungai dan tebing rawan longsor.
"Kami berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan penangan cepat dengan truk tangki guna memenuhi kebutuhan air bersih warga di sejumlah kecamatan yang menjadi langganan kekeringan saat kemarau," kata Asep Sudrajat menambahkan langkah antisipasi kekeringan melalui pembangunan pipanisasi dan embung.