Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi ancaman gelombang tinggi yang dapat mencapai 2,5 meter di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kewaspadaan tersebut perlu ditingkatkan oleh masyarakat, khususnya pengguna transportasi laut, selama periode Senin (18/5) hingga Kamis (21/5) 2026.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul analisis pergerakan angin sinoptik di wilayah NTT yang berembus dari arah timur laut menuju tenggara dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 30 knot. Berdasarkan laporan cuaca yang dilansir dari Detik Travel, tingginya kecepatan angin menjadi faktor utama yang memicu lonjakan tinggi gelombang di sejumlah titik perairan.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang Yandri Anderudson Tungga menjelaskan bahwa kecepatan angin tertinggi saat ini terdeteksi di beberapa area strategis. Wilayah tersebut meliputi perairan selatan Flores, AlorāPantar, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, SabuāRaijua, hingga wilayah perairan selatan TimorāRote.
Kondisi alam ini membuat BMKG memetakan belasan titik perairan di NTT yang berstatus rawan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter. Area terdampak meliputi Selat Sape bagian selatan, Selat FloresāLamakera, Selat Alor, Selat Pantar, perairan selatan Flores, perairan selatan AlorāPantar, Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu, serta Selat Ombai.
Selain sembilan wilayah laut tersebut, potensi gelombang tinggi juga diprediksi menerjang perairan selatan Sumba, perairan utara dan selatan SabuāRaijua, perairan utara KupangāRote, Selat Pukuafu, perairan selatan TimorāRote, hingga kawasan perairan Taman Nasional Komodo.
Terkait situasi ini, BMKG menyusun panduan keselamatan khusus bagi para operator kapal dan nelayan yang beroperasi di wilayah terdampak. Perahu nelayan diwajibkan waspada jika angin berembus mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter, sementara kapal tongkang diminta berhati-hati saat kecepatan angin menyentuh 16 knot dengan gelombang 1,5 meter.
Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga diinstruksikan untuk terus memantau perkembangan cuaca harian secara berkala guna mengantisipasi perubahan kondisi laut yang mendadak. Langkah antisipasi ini dinilai penting demi menekan risiko terjadinya kecelakaan laut bagi warga yang beraktivitas di sepanjang pantai.