Sektor barang konsumsi di Indonesia memperlihatkan posisi yang semakin solid di tengah ketidakpastian regulasi yang menyelimuti sejumlah sektor industri. Para analis menilai bidang ini tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari aset defensif dengan sensitivitas rendah terhadap fluktuasi suku bunga maupun volatilitas nilai tukar mata uang asing.
Daya tahan sektor konsumer domestik telah teruji melewati berbagai badai makroekonomi besar secara historis. Mulai dari Krisis Keuangan Global, fenomena taper tantrum, anjloknya harga komoditas, pandemi Covid-19, hingga periode pelemahan nilai tukar Rupiah, sektor ini tetap mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan yang tangguh.
Sebagian besar emiten papan atas terbukti memiliki pricing power yang kuat meskipun sempat menghadapi tekanan pada laba bersih akibat inflasi harga bahan baku dan depresiasi Rupiah. Kekuatan dalam menentukan harga ini memungkinkan mereka untuk memulihkan margin keuntungan secara bertahap seiring berjalannya waktu.
Risiko regulasi di sektor konsumer dinilai relatif lebih moderat dibandingkan dengan sektor pertambangan atau industri berat yang rentan terhadap intervensi kebijakan. Sebagian besar kebijakan pemerintah saat ini memang menyentuh sisi hulu, seperti regulasi impor gandum pakan, tepung kedelai, dan gula rafinasi.
Dampak dari aturan tersebut di sisi hilir dinilai masih dalam batas yang dapat dikelola dengan baik oleh pelaku industri. Selain itu, pemerintah mendukung stabilitas konsumsi melalui berbagai program stimulus untuk menjaga daya beli rumah tangga di tengah tantangan ekonomi.
Bantalan kuat bagi konsumsi domestik disokong oleh program perlindungan daya beli rumah tangga seperti subsidi bahan bakar, langkah stimulus fiskal, hingga program makanan bergizi gratis. Rupiah yang lebih stabil juga memberikan angin segar bagi perusahaan produsen bahan pokok yang mengandalkan bahan baku impor.
Sektor ritel akan diuntungkan melalui peningkatan Same Store Sales Growth (SSSG) akibat daya beli masyarakat yang terjaga. Saat ini, valuasi sektor konsumer telah menyentuh posisi terendah secara siklus.
Potensi Kenaikan Harga Saham Jangka Menengah
Kondisi tingkat kepemilikan institusional yang masih tergolong rendah menciptakan pengaturan teknikal yang sangat mendukung potensi re-rating atau kenaikan harga saham dalam jangka menengah. Dilansir dari Suara, BNI Sekuritas merekomendasikan sektor konsumsi sebagai aset investasi defensif dengan potensi kenaikan harga saham tersebut.
Emiten di sektor staples atau kebutuhan pokok menawarkan karakteristik yang sangat defensif dalam pandangan BNI Sekuritas. Di sisi lain, sektor ritel memberikan potensi keuntungan atau upside yang lebih besar apabila momentum konsumsi masyarakat kembali menguat secara signifikan.
BNI Sekuritas menetapkan sektor konsumer sebagai preferensi utama dalam portofolio investasi defensif berdasarkan analisis tersebut. Investor direkomendasikan untuk mencermati saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebagai pilihan saham utama.