Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memberikan jaminan bahwa kontrak ekspor yang sedang berjalan saat ini tidak akan mengalami gangguan. Langkah ini dilakukan menyusul adanya proses pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Kepastian tersebut diberikan guna merespons kecemasan para pelaku usaha mengenai efek dari penerapan skema baru dalam perdagangan komoditas strategis. Seperti dikutip dari Suara, pemerintah memastikan kenyamanan dunia usaha tetap menjadi prioritas.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa pihak pemerintah kini tengah mematangkan pembahasan mengenai proses transisi regulasi terkait DSI. Oleh sebab itu, seluruh kerja sama yang telah disepakati dipastikan tetap berjalan.
"Kontrak existing pasti kan tetap ada, akan jalan, sekarang kita enggak mau disrupt anything with respect to kontrak-kontrak yang existing, kita ingin semuanya lancar, berjalan dengan baik," kata Pandu di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (21/5/2026).
Penjelasan ini mengemuka di tengah kekhawatiran yang melanda para pelaku industri. Mereka mempertanyakan keberlanjutan kemitraan dagang yang sudah disahkan sebelum kehadiran DSI.
Mengenai nasib kontrak yang masa berlakunya hingga tahun depan, Pandu menyatakan bahwa jajaran pemerintah terus menghimpun masukan dari berbagai sektor industri sebelum regulasi diterapkan secara menyeluruh.
"Nanti kita akan, semuanya nih kita lagi dapat masukan juga dari industri, bakal ketemu asosiasi juga nanti, dan ketemu pemain-pemain (pengusaha) the next 2 days, so it should be okay lah," ujarnya.
Pemerintah diklaim tetap membuka ruang komunikasi yang lebar bagi asosiasi maupun pelaku usaha. Upaya ini diambil agar fase peralihan tidak menghentikan roda bisnis yang sedang berputar.
Kendati demikian, rincian mengenai mekanisme transisi yang bakal diberlakukan belum dipaparkan secara mendalam. Hal ini dikarenakan pembahasan di tingkat teknis masih terus digodok.
Pandu juga mengonfirmasi bahwa evaluasi ataupun penyesuaian harga kontrak tidak masuk dalam prioritas utama pada proses peralihan ini.
"Secondary lah, karena contract is contract," katanya.
Sebelumnya, pihak eksekutif telah mengumumkan pendirian PT DSI yang diplot untuk mengelola tata niaga komoditas strategis. Pada periode awal, perusahaan plat merah ini diproyeksikan menjadi penilai serta perantara transaksi, lalu bertindak sebagai trader pada fase berikutnya.