Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menunjuk beberapa bank internasional guna menjajaki penjualan surat utang dalam denominasi dolar Amerika Serikat. Langkah penggalangan dana ini ditargetkan mampu meraup dana segar mencapai 5 miliar dolar AS atau setara Rp89,5 triliun.
Seperti diberitakan oleh Suara, rencana strategis lembaga ini terungkap melalui laporan Reuters dan Bloomberg. Momentum tersebut berjalan bersamaan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus angka Rp17.900 per dolar AS.
Kondisi pasar ini dipengaruhi oleh munculnya keraguan investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, tekanan dari eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperparah sentimen terhadap mata uang dalam negeri.
Di tengah situasi tersebut, lembaga pemeringkat global Moody's Ratings memberikan penilaian awal kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Pada Rabu (3/6/2026), Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan prospek atau outlook negatif.
Ketetapan outlook negatif ini diselaraskan dengan peringkat utang yang dimiliki pemerintah Indonesia. Moody’s menjelaskan bahwa peringkat emiten Baa2 untuk DIM didasarkan pada hubungan yang sangat erat dengan pemerintah, termasuk dalam struktur kepemilikan.
Melalui metode pendekatan top-down, Moody’s mengategorikan DIM sebagai emiten terkait pemerintah atau Government Related Issuer (GRI). Lembaga pemeringkat ini tidak memberikan Penilaian Kredit Dasar atau Baseline Credit Assessment (BCA).
Absennya nilai BCA tersebut mencerminkan kondisi operasional DIM yang dinilai masih berada pada tahap awal perkembangan. Lembaga ini dianggap memiliki rekam jejak yang terbatas serta belum menjalankan operasi mandiri secara signifikan.
Daftar Bank Global dan Rekam Jejak Pendanaan
Secara spesifik, Moody's menetapkan peringkat sementara Baa2 untuk program surat utang jangka menengah (MTN) global senior tanpa jaminan. Peringkat yang sama juga diberikan untuk rencana penerbitan surat utang senior tanpa jaminan oleh DIM.
Guna memuluskan rencana pelepasan instrumen investasi ini, Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered telah ditunjuk secara resmi. Kelima perusahaan finansial tersebut akan bertindak bersama sebagai manajer utama sekaligus penjamin emisi.
Agenda pertemuan tatap muka bersama jajaran investor obligasi internasional dijadwalkan berlangsung di wilayah Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Pertemuan berkala ini dilaporkan mulai digelar sejak Rabu.
Sebelum agenda penjualan emisi dolar ini mencuat, institusi pengelola investasi ini tercatat telah mengumpulkan dana sekitar Rp50 triliun melalui penerbitan Patriot Bond. Instrumen investasi tersebut diserap oleh kelompok konglomerat domestik.
Selanjutnya pada Maret lalu, korporasi keuangan ini juga telah menerbitkan instrumen surat utang jangka pendek. Nilai penerbitan obligasi jangka pendek tersebut berada di angka Rp7 triliun.