Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7.243.605 orang pada Februari 2026, atau mengalami penurunan sebanyak 35.000 orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tipis sebesar 0,08 persen ini terjadi di tengah penambahan jumlah angkatan kerja baru yang masuk ke pasar kerja nasional.
Data yang dilansir dari Lestari menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2025 tercatat sebanyak 7.278.307 orang. Secara keseluruhan, total angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 telah menyentuh angka 154,91 juta orang.
Pelaksana Tugas Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memberikan rincian mengenai pergerakan tenaga kerja tersebut dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat Bappenas pada Kamis (7/5/2026). Ia menyoroti adanya penyerapan tenaga kerja yang signifikan dalam satu tahun terakhir.
"Terdapat tambahan 1,9 juta angkatan kerja yang bekerja, dan juga terjadi tambahan orang yang masuk ke pasar kerja sebesar 1,86 juta dan terjadi penurunan yang menganggur sebesar 35.000," kata Amalia Adininggar Widyasanti, Pelaksana Tugas Kepala BPS.
Laporan tersebut juga merinci kondisi setengah pengangguran yang berada pada level 7,27 persen, atau turun 0,74 persen dari tahun sebelumnya. Kelompok ini mencakup individu yang bekerja di bawah jam normal atau kurang dari 35 jam dalam sepekan.
Disparitas wilayah terlihat jelas dengan angka pengangguran di perkotaan mencapai 5,60 persen, sementara di perdesaan hanya 3,20 persen. Dari sisi gender, TPT laki-laki tercatat sebesar 4,88 persen dan perempuan sebesar 4,36 persen, di mana keduanya mengalami tren penurunan tipis.
Berdasarkan latar belakang pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mencatatkan angka pengangguran tertinggi. Sebaliknya, penduduk dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah memiliki tingkat pengangguran paling rendah.
"Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT mempunyai pola yang hampir sama dari Februari 2024 sampai dengan Februari 2026. Pada Februari 2026, TPT tamatan Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 7,74 persen, tertinggi dibandingkan tamatan pada jenjang pendidikan lainnya. Sementara itu, TPT paling rendah berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 2,32 persen," tulis BPS dalam laporannya.
Data distribusi pengangguran menunjukkan tamatan Sekolah Menengah Atas mendominasi sebesar 28 persen pada Februari 2026. Sementara itu, serapan tenaga kerja paling stabil terlihat pada lulusan Diploma I/II/III yang hanya menyumbang 2,48 persen dari total pengangguran.
Mengenai kesejahteraan, rata-rata upah buruh di Indonesia berada di angka Rp 3,29 juta per bulan. Sektor keuangan dan asuransi memberikan upah tertinggi sebesar Rp 5,05 juta, sedangkan sektor jasa rumah tangga dan kesenian menjadi yang terendah dengan rata-rata Rp 2 juta.
"Hasil Sakernas Februari 2026 menunjukkan bahwa upah buruh berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkan, semakin besar upah yang diterima," jelas BPS pada laporannya.
Tren upah berdasarkan usia menunjukkan kelompok umur 55–59 tahun menerima rata-rata tertinggi sebesar Rp 3,77 juta. Sebaliknya, pekerja muda usia 15–19 tahun menerima upah rata-rata terendah senilai Rp 1,99 juta per bulan.