Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan dengan upah buruh di Indonesia berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Februari 2026 yang dirilis pada Rabu (6/5/2026).
Data tersebut menunjukkan bahwa buruh dengan latar belakang pendidikan Diploma IV hingga S3 menerima gaji rata-rata sebesar Rp4,77 juta per bulan. Dilansir dari Ekonomi, angka tersebut terpaut jauh dengan upah buruh lulusan SD ke bawah yang rata-rata hanya menerima Rp2,23 juta.
"Dengan demikian, buruh berpendidikan Diploma IV, S1, S2, S3 menerima upah sebesar 2,1 kali lipat dibandingkan buruh berpendidikan SD ke bawah," tulis BPS dalam berita resmi statistik.
Lembaga tersebut juga memaparkan distribusi pendapatan pada jenjang pendidikan menengah. Lulusan Diploma I hingga Diploma III mencatatkan rerata upah Rp4,04 juta, sementara lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berada di angka Rp3,17 juta.
Terdapat selisih tipis pada upah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tercatat sebesar Rp3,08 juta. Sedangkan untuk buruh lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), rata-rata penghasilan per bulan mencapai Rp2,55 juta pada periode Februari 2026.
Kesenjangan pendapatan ini juga ditemukan pada kategori jenis kelamin di seluruh jenjang pendidikan. Buruh laki-laki secara konsisten menerima upah lebih tinggi, yakni Rp5,63 juta pada kelompok pendidikan tinggi dibandingkan perempuan yang menerima Rp3,99 juta.
Pada tingkat pendidikan rendah, buruh laki-laki lulusan SD ke bawah mendapatkan Rp2,51 juta, sementara buruh perempuan hanya memperoleh Rp1,47 juta. Selisih upah gender paling signifikan ditemukan pada lulusan Diploma I/II/III dengan perbedaan mencapai Rp1,72 juta.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk bekerja hingga Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 1,9 juta orang dalam satu tahun terakhir. Sektor pekerja penuh mendominasi dengan total 98,59 juta orang atau naik 2,11 juta orang.
Sementara itu, jumlah pengangguran tercatat turun menjadi 7,24 juta orang dibandingkan periode Februari 2025. Jumlah setengah pengangguran juga mengalami penurunan sebesar 940.000 orang sehingga kini menjadi 10,73 juta orang secara nasional.