Bond Stabilization Fund (BSF) diproyeksikan menjadi instrumen penyangga utama dalam menjaga stabilitas pasar obligasi Indonesia guna mengantisipasi lonjakan yield akibat kepanikan investor pada Jumat (8/5/2026). Dilansir dari Money, instrumen ini bertugas menahan tekanan jual teknis dan kekeringan likuiditas di pasar domestik.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa kehadiran skema stabilisasi ini sangat krusial saat pasar mengalami tekanan portofolio jangka pendek yang tidak terduga.
"BSF dapat hadir sebagai pembeli penyangga ketika harga SBN turun, sehingga yield tidak melonjak liar," ujar Syafruddin, Ekonom Universitas Andalas.
Data pasar per 7 Mei 2026 menunjukkan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,701 persen. Sementara itu, yield tenor tiga tahun mengalami penurunan tipis menjadi 6,542 persen dan tenor lima tahun sedikit meningkat ke posisi 6,781 persen.
Risiko kredit Indonesia terpantau masih stabil dengan penurunan credit default swap (CDS) tenor lima tahun sebesar 2,978 basis poin serta tenor 10 tahun sebesar 2,344 basis poin. Syafruddin menilai mandat yang transparan akan memperkuat kepercayaan para pemegang modal.
"Investor akan lebih percaya jika BSF memiliki mandat jelas: menjaga likuiditas SBN, mencegah dislokasi harga, dan menahan arus keluar modal yang dipicu capital loss," katanya Syafruddin, Ekonom Universitas Andalas.
Meskipun memiliki peran strategis, stabilitas pasar obligasi masih dipengaruhi faktor eksternal seperti nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.370 per dollar AS. Pasar derivatif juga mencatatkan forward USD/IDR tenor satu bulan pada level 17.386 dan tenor tiga bulan sebesar 17.435.
"Forward USD/IDR tercatat berada di level 17.386 untuk tenor satu bulan dan 17.435 untuk tenor tiga bulan," katanya Syafruddin, Ekonom Universitas Andalas.
Kepercayaan pasar terhadap kredibilitas fiskal pemerintah dan kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga inflasi tetap rendah akan menentukan pergerakan yield hingga akhir tahun. Syafruddin memproyeksikan yield tenor 10 tahun akan bergerak dinamis dalam skenario ekonomi yang konstruktif.
"Yield akan ditentukan oleh kepercayaan pasar bahwa pemerintah dapat menjaga APBN tetap kredibel dan BI dapat menjaga rupiah tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan," ujarnya Syafruddin, Ekonom Universitas Andalas.
Saat ini, inflasi tahunan terkendali pada level 2,42 persen dengan inflasi inti 2,44 persen, sehingga kepemilikan SBN masih menawarkan real yield positif bagi para investor. Situasi yield yang tinggi saat ini juga dipandang sebagai peluang masuk bagi investor baru karena potensi kupon yang lebih kompetitif.
"Yield tinggi memang dapat menjadi peluang, tetapi peluang itu hanya layak diambil dengan disiplin risiko, horizon investasi jelas, dan keyakinan bahwa stabilitas makro tetap terjaga," kata Syafruddin, Ekonom Universitas Andalas.
Investor konservatif disarankan memilih obligasi tenor pendek untuk meminimalkan risiko durasi, sementara akumulasi tenor menengah hingga panjang mulai direkomendasikan bagi yang siap menghadapi volatilitas.