PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengantisipasi potensi kenaikan rasio loan at risk akibat lonjakan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada hari Selasa (2/6), seperti dilansir dari Keuangan.
Langkah kewaspadaan tersebut diambil meski pihak perseroan mengonfirmasi bahwa kualitas aset saat ini masih berada dalam kondisi yang terkendali. Risiko pembengkakan rasio diproyeksikan bersumber dari debitur restrukturisasi yang arus kasnya belum pulih total, serta sebagian portofolio komersial dan consumer banking.
Berdasarkan catatan kinerja perusahaan, posisi rasio LAR milik bank pelat merah ini pada kuartal I-2026 sebenarnya berada di angka 19,6 persen. Jumlah tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar 70 basis poin jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 20,3 persen.
"Kenaikan suku bunga memang dapat memengaruhi kemampuan bayar sebagian debitur, khususnya pada segmen yang lebih sensitif terhadap perubahan cash flow. Namun secara umum kualitas portofolio BTN saat ini masih terkendali dan menunjukkan tren perbaikan," ujar Setiyo Wibowo, Direktur Risk Management BTN.
Pihak manajemen mengelola risiko tersebut secara aktif melalui pengawasan ketat terhadap debitur yang masuk dalam kategori daftar pantauan. Penguatan mitigasi dijalankan lewat pemanfaatan early warning system, pengetatan monitoring, stress testing, hingga segmentasi strategi collection dan recovery.
"Pendekatannya akan lebih prudent, berbasis risk appetite, kualitas borrower, kemampuan bayar, dan prospek bisnis," jelas Setiyo Wibowo, Direktur Risk Management BTN.
Perseroan juga menempuh perbaikan proses underwriting berbasis data demi menjaga kesehatan pertumbuhan kredit baru. Strategi utama emiten perbankan ini difokuskan pada penguatan monitoring dini, intensifikasi penagihan, restrukturisasi selektif, serta percepatan penyelesaian kredit bermasalah melalui penjualan aset agar kenaikan LAR tidak berujung menjadi non-performing loan.