PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memberikan tanggapan terkait langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada Jumat (22/5/2026). Langkah bank sentral tersebut dinilai sebagai upaya mengendalikan nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global, seperti dilansir dari Money.
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon Napitupulu menjelaskan bahwa penyesuaian instrumen moneter ini sudah diperkirakan sebelumnya oleh pihak perseroan untuk menahan tekanan eksternal.
"Kita sudah duga pasti naik karena memang menjaga stabilisasi moneter dan nilai tukar. Saya malah memprediksi 50 basis point dan ternyata keluarnya 50," ujar Nixon Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Pihak manajemen memastikan belum ada perubahan kebijakan terkait bunga kredit yang disalurkan kepada nasabah, termasuk skema pembiayaan untuk perumahan pascapenetapan kebijakan moneter baru tersebut.
"Dampaknya ke kredit kita belum pikirin. Belum ada adjustment bunga, enggak usah khawatir," kata Nixon Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Tinjauan internal saat ini sedang diarahkan untuk melihat pengaruh kebijakan bank sentral terhadap bunga simpanan berjangka yang dimiliki oleh perseroan.
"Kedua dampaknya ke deposito juga kita lagi review dan biasanya enggak langsung juga sesuai jatuh temponya deposito," ujar Nixon Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Penyesuaian penuh dari kenaikan suku bunga acuan ini diperkirakan membutuhkan waktu transisi sebelum berdampak langsung pada operasional harian industri perbankan nasional.
"Biasanya sih tiga bulanan," kata Nixon Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Proyeksi perseroan menunjukkan dampak terhadap sektor kredit perumahan akan sangat minim karena sebagian besar portofolio KPR menggunakan skema bunga tetap yang polanya telah diatur dalam kontrak awal sejak awal tahun.
"Kita dari awal juga memprediksi 0,25 lebih tinggi dari realisasi hari ini. Jadi kita masih ada space 25 basis point," kata Nixon Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Asumsi rencana kerja perusahaan telah mengantisipasi fluktuasi moneter ini, sehingga tekanan yang dihadapi oleh setiap kelompok nasabah pada berbagai segmen dipastikan akan bervariasi.
"Belum tentu semua naik karena yang bawah-bawah dengan yang atas-atas tekanannya beda biasanya," ujar Nixon Napitupulu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Melalui Rapat Dewan Gubernur periode Mei 2026, Bank Indonesia menetapkan peningkatan BI Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Kebijakan tersebut diikuti dengan kenaikan suku bunga deposit facility menjadi 4,25 persen serta suku bunga lending facility yang kini berada di posisi 6 persen.