Bursa Asia mencatatkan penguatan signifikan pada awal perdagangan pekan ini. Kenaikan sentimen positif ini terjadi setelah pejabat Amerika Serikat mengisyaratkan adanya titik terang mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dikutip dari Investasi, pergerakan indeks saham di kawasan regional didominasi oleh zona hijau pada Senin (25/5/2026) pagi. Pukul 08.18 WIB, indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak 1.862,46 poin atau 2,94 persen ke level 65.199,12.
Kenaikan ini juga diikuti oleh indeks Taiex di Taiwan yang menguat 944,26 poin atau 2,23 persen menuju 43.200,83. Sementara itu, indeks ASX 200 di Australia terapresiasi sebesar 21,77 poin atau 0,25 persen ke posisi 8.678,40.
Di Asia Tenggara, indeks Straits Times Singapura turut bergerak positif dengan kenaikan 26,10 poin atau 0,51 persen ke level 5.093,39. Namun, kondisi berbeda dialami FTSE Malaysia yang melemah tipis 0,71 poin atau 0,06 persen ke 1.711,72.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pasifik mengalami kenaikan sebesar 1 persen. Penguatan bursa kawasan ini dipimpin langsung oleh performa impresif dari indeks Nikkei Jepang.
Sejumlah pejabat senior Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pihaknya dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Meski begitu, proses negosiasi mengenai poin-poin krusial masih terus berjalan.
Persetujuan akhir dari kedua belah pihak diperkirakan masih membutuhkan waktu dalam beberapa hari ke depan. Situasi ini langsung direspons positif oleh pelaku pasar yang mengharapkan penurunan ketegangan geopolitik.
Manajer Portofolio Allspring, Alison Shimada, menyatakan pandangannya mengenai situasi pasar modal saat ini.
"Pasar berada dalam mode mencari peluang di luar perang iran selama sekitar satu bulan," kata Manajer Portofolio Allspring Alison Shimada seperti dikutip Bloomberg.
Dirinya menambahkan ketertarikan untuk mengambil posisi strategis dalam mengantisipasi koreksi harga komoditas pasca-konflik.
"Saya tertarik untuk memposisikan diri menghadapi apa yang terjadi setelah harga minyak turun, karena saya think kedua belah pihak menginginkan semacam penyelesaian perang melalui negosiasi," imbuhnya.