PT Bursa Berjangka Jakarta Memperkuat Posisi Komoditas Global

PT Bursa Berjangka Jakarta Memperkuat Posisi Komoditas Global

PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) menargetkan penguatan posisi di pasar komoditas global melalui optimalisasi perdagangan timah, kopi, serta minyak sawit mentah. Langkah strategis ini mendapat dukungan regulasi dan lembaga pemerintah pada kegiatan Media Masterclass di Pangkalpinang, Selasa (19/5/2026), dilansir dari Money.

Perdagangan komoditas melalui bursa resmi dinilai menjadi pilar penting untuk membangun kemandirian ekonomi nasional di tengah persaingan internasional. Struktur pasar yang tertata mempermudah pengawasan aliran komoditas strategis oleh otoritas terkait.

"Tercatat saat ini 95 persen perdagangan timah domestik melalui bursa JFX. Perdagangan dilakukan melalui bursa agar lebih rapi, tertata dan bisa terpantau oleh pemerintah," kata Yazid Kanca Surya, Direktur Utama JFX.

Aktivitas niaga di bursa domestik kini mulai diperhitungkan oleh pelaku usaha dari berbagai negara sebagai indikator harga. Keberadaan ekosistem perdagangan ini juga memperkuat daya tawar Indonesia sebagai salah satu produsen utama komoditas dunia.

"Kami bukan hendak mengalahkan London Metal Exchange (LME), tapi setidaknya ada di posisi nomor dua dalam tatanan pasar global," ujar Yazid Kanca Surya, Direktur Utama JFX.

Kelancaran transaksi di JFX ditopang oleh PT Kliring Berjangka Indonesia selaku lembaga penjamin milik negara untuk meningkatkan aspek kepercayaan pembeli. Operasional bursa ini turut diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), serta Kementerian Perdagangan.

"Transaksi sudah didukung lembaga penjamin milik negara, PT Kliring Berjangka Indonesia. Ada kepercayaan dari pembeli karena uangnya masuk ke negara. Bursa membangun pasar menjadi lebih efisien karena semuanya anggota yang sudah terdaftar dan jelas asal usulnya," jelas Yazid Kanca Surya, Direktur Utama JFX.

Provinsi Bangka Belitung memegang peran krusial dalam rantai pasok global karena menjadi pusat produksi utama timah nasional bersama China dan Myanmar. Komoditas mineral logam ini secara konsisten menyumbang devisa yang signifikan bagi penerimaan negara.

"Sebagian besar produksi nasional berasal dari wilayah Bangka Belitung, menjadikan daerah ini sebagai titik krusial dalam rantai pasok timah global," tutur Yazid Kanca Surya, Direktur Utama JFX.

Penetapan nilai ekonomi timah dipengaruhi oleh mekanisme perdagangan dan dinamika penawaran serta permintaan di pasar internasional. Namun, edukasi publik saat ini dinilai masih menitikberatkan pada sektor hulu seperti legalitas penambangan dan dampak lingkungan.

"Padahal, harga timah tidak terbentuk secara sederhana. Selama ini, referensi harga global banyak mengacu pada bursa internasional seperti London Metal Exchange (LME), yang mencerminkan dinamika penawaran-permintaan global, tingkat persediaan, serta sentimen pasar internasional," ungkap Yazid Kanca Surya, Direktur Utama JFX.

Volatilitas harga di bursa domestik seringkali menunjukkan selisih dengan bursa luar negeri karena dipengaruhi faktor logistik lokal dan kualitas produk. Penentuan harga secara transparan melalui JFX menjadi solusi atas perbedaan nilai transaksi tersebut.

"Perbedaan ini menunjukkan bahwa harga tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor luar negeri, melainkan hasil interaksi antara faktor global dan domestik," pungkas Yazid Kanca Surya, Direktur Utama JFX.

Artikel terkait

Rekomendasi