Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026) menyusul adanya koreksi signifikan pada saham Intel dan emiten cip lainnya. Dilansir dari Money, pelemahan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik terkait pembicaraan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 0,38 persen ke posisi 7.337,11, sementara Nasdaq melemah 0,13 persen menjadi 25.806,20. Indeks Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 0,63 persen ke level 49.596,97 dengan volume perdagangan mencapai 18,3 miliar saham.
Sektor material dan energi memimpin penurunan di S&P 500 dengan pelemahan masing-masing sebesar 1,83 persen dan 1,78 persen. Tekanan berat juga dirasakan oleh indeks semikonduktor PHLX yang anjlok 2,7 persen setelah reli panjang di kuartal ini.
Saham Arm Holdings merosot tajam akibat kekhawatiran pasokan cip kecerdasan buatan (AI) baru, meskipun perusahaan sempat memproyeksikan pendapatan yang kuat. Di sisi lain, saham Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) kompak turun sekitar 3 persen pada akhir sesi.
Meskipun mayoritas saham teknologi melemah, Nvidia dan Microsoft justru menguat hampir 2 persen karena tingginya kepercayaan investor pada teknologi AI. Secara keseluruhan, indeks S&P 500 masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 7 persen sepanjang tahun berjalan 2026.
Head of Portfolio Management Horizon Investments, Mike Dickson, menilai fluktuasi ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar di tengah periode pemulihan.
“Pasar masih bisa mengalami beberapa hari pelemahan seperti ini, tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa kuartal ini merupakan periode pemulihan yang luar biasa dan didorong oleh fundamental,” ujar Mike Dickson, Head of Portfolio Management Horizon Investments.
Kondisi ekonomi Amerika Serikat juga didukung oleh data tenaga kerja yang menunjukkan klaim tunjangan pengangguran lebih rendah dari perkiraan. Investor kini tengah menantikan rilis data non-farm payrolls yang diprediksi akan bertambah sekitar 62.000 pada April 2026.
Presiden Cleveland Fed, Beth Hammack, memberikan pandangannya mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini.
“Ia memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga masa mendatang karena menghadapi iklim ketidakpastian yang cukup besar,” kata Beth Hammack, Presiden Cleveland Fed.
Pasar saat ini memperkirakan Federal Reserve tetap mempertahankan suku bunga stabil hingga akhir tahun. Hal ini didasari oleh kondisi pasar tenaga kerja yang dinilai masih kuat serta harga energi yang bertahan di level tinggi.