Bursa saham Amerika Serikat dibuka melemah pada Selasa setelah sempat mencetak rekor tertinggi baru dalam beberapa sesi perdagangan terakhir akibat aksi ambil untung investor.
Pelemahan ini melanda tiga indeks utama Wall Street pada pembukaan perdagangan sebagaimana dilansir dari Investasi dari laporan Reuters.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau turun 166 poin atau 0,33 persen menuju level 50.912,84 secara langsung.
Koreksi juga terjadi pada S&P 500 yang melemah 4,6 poin atau 0,06 persen ke posisi 7.595,4 serta Nasdaq Composite yang turun 56,7 poin atau 0,21 persen ke level 27.030,07.
Kendati pasar melemah, optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan masih terus menjadi penopang utama sentimen positif para pelaku pasar.
Kenaikan dipimpin oleh saham Hewlett Packard Enterprise sebesar 28 persen pada premarket setelah mempercepat target keuangan jangka panjangnya.
Saham infrastruktur pendukung lain ikut terangkat seperti Dell Technologies sebesar 2,3 persen dan Super Micro Computer yang menguat 4,6 persen.
Namun, saham Alphabet justru turun hampir 2,8 persen setelah mengumumkan rencana penghimpunan dana ekuitas bernilai 80 miliar dolar AS guna mendanai ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan.
Kondisi ini mendapat tanggapan dari Ryan Detrick selaku Chief Market Strategist Carson Group yang menilai permintaan pasar terhadap teknologi baru ini masih sangat masif.
"Every day it seems like there is a company out there giving a strong signal that the AI wave is alive and well," ujar Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group.
Sentimen penggerak pasar ini melanjutkan reli pada perdagangan Senin ketika S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan delapan sesi beruntun.
Penguatan sebelumnya turut didorong pengenalan prosesor baru Nvidia yang melonjak lebih dari 6 persen serta saham Marvell Technology yang melesat lebih dari 19 persen.
Selain faktor perkembangan teknologi, perhatian investor juga terbagi oleh dinamika geopolitik di wilayah Timur Tengah terkait konflik yang melibatkan Lebanon, Hezbollah, dan Israel.
"The Middle East matters, but right now the market is paying more attention to the incredible growth we continue to see in tech and AI," kata Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group.
Kini pelaku pasar tengah menantikan rilis data lowongan pekerjaan terbaru serta pidato Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack untuk memproyeksikan arah suku bunga.