Pasar saham Amerika Serikat diprediksi akan bergerak fluktuatif akibat sejumlah faktor krusial pada pekan mendatang. Dilansir dari Money, investor kini fokus memantau data inflasi, angka belanja konsumen, hingga eskalasi konflik di Iran.
Tren positif saat ini masih menyelimuti bursa saham AS dengan kenaikan indeks S&P 500 yang mencapai lebih dari 16 persen. Pencapaian ini dihitung sejak titik terendah pada akhir Maret 2026 yang didorong oleh performa laporan keuangan emiten.
Kondisi pasar yang membaik membuat banyak pemodal kembali melakukan aksi beli. Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran tertinggal momentum kenaikan harga saat dampak ekonomi dari ketegangan di Timur Tengah mulai mereda.
"Kita telah melihat pemulihan yang luar biasa ini karena pasar telah bertekad untuk fokus hanya pada hal-hal positif," kata Kepala Strategi Pasar Man Group Kristina Hooper.
Situasi di Timur Tengah tetap menjadi pusat perhatian utama bagi para pelaku pasar di Wall Street. Investor mengharapkan adanya tanda-tanda deeskalasi atas perang yang pecah sejak akhir Februari 2026 lalu.
Fokus utama lainnya adalah kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak global. Harga energi telah melonjak drastis dengan kenaikan harga minyak mentah AS mencapai lebih dari 60 persen tahun ini.
"Kemajuan berkelanjutan menuju penyelesaian perang AS-Iran akan menjadi perhatian utama para investor," kata Kepala Strategi Investasi State Street Investment Management Michael Arone.
"Anda perlu mulai melihat pergerakan kapal di Selat Hormuz," lanjut dia.
Isu keamanan ini juga dijadwalkan menjadi agenda pembahasan dalam pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing. Pasar menantikan arah hubungan diplomatik kedua negara terkait teknologi dan akses logam tanah jarang.
Sektor Teknologi Topang Kinerja Indeks
Pertumbuhan pasar modal di AS sepanjang 2026 ini sangat dipengaruhi oleh dominasi saham-saham perusahaan teknologi. Indeks Nasdaq Composite bahkan tercatat sudah menguat hampir 13 persen hingga perdagangan Jumat terakhir.
Meski periode laporan keuangan kuartal I 2026 hampir usai, beberapa perusahaan besar dijadwalkan merilis data kinerjanya. Cisco dan Applied Materials akan mengumumkan laporan pekan depan, disusul Nvidia serta Walmart pada akhir bulan.
Data dari LSEG IBES memproyeksikan laba perusahaan dalam S&P 500 akan melonjak hingga 28,6 persen pada kuartal ini. Investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan atau AI menjadi faktor utama pendorong pendapatan sektor teknologi.
"Hasilnya menunjukkan bahwa semua kekhawatiran bahwa tarif atau guncangan harga minyak ini akan mengurangi margin belum terwujud sejauh ini," kata Arone.
"Pendapatan adalah sumber kehidupan reli ini," lanjut dia.
Data Inflasi Jadi Penentu Kebijakan Suku Bunga
Para investor kini menanti rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode April 2026 pada Selasa mendatang. Data ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana dampak perang Iran terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Hasil survei memperkirakan adanya kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,6 persen. Sebagai perbandingan, pada Maret 2026, kenaikan CPI mencapai 0,9 persen yang merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu hampir empat tahun.
"Jika CPI inti jauh lebih tinggi, saya pikir itu akan sangat bermasalah," kata Hooper.
Selain data inflasi, pasar juga mencermati angka penjualan ritel untuk melihat daya beli masyarakat di tengah tingginya harga bensin. Saat ini, harga rata-rata bensin nasional di AS telah menembus 4,50 dollar AS per galon.
"Meskipun harga minyak sedikit berfluktuasi dan turun dari titik tertinggi, harga bensin di seluruh AS terus meningkat," kata Co-Chief Investment Officer dan Direktur Riset Manajemen Investasi D.A. Davidson James Ragan.
"Kami belum merasakan dampak positifnya. Saya rasa belum banyak bukti yang menunjukkan bahwa hal itu merugikan pengeluaran konsumen, tetapi ini jelas merupakan pos anggaran yang lebih besar," lanjut dia.