Bursa Saham Asia Bergerak Variatif Akibat Kekhawatiran Sektor AI

Bursa Saham Asia Bergerak Variatif Akibat Kekhawatiran Sektor AI

Pasar saham di kawasan Asia mencatatkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah benturan sentimen positif Wall Street dengan kekhawatiran investor. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta risiko gelembung pada sektor industri kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari Money, bursa Jepang mencatatkan penguatan dengan indeks Nikkei 225 yang naik 0,6 persen ke level 62.828,07. Sebaliknya, indeks Kospi di Korea Selatan justru mengalami tekanan tajam sebesar 2,7 persen hingga terperosok ke posisi 7.610,10 akibat keraguan terhadap reli saham AI.

Analis SPI Asset Management, Stephen Innes, memberikan pandangan mengenai ketergantungan pasar global terhadap sektor teknologi tersebut. Ia menilai struktur pasar saat ini cenderung rapuh karena hanya ditopang oleh segelintir perusahaan besar.

"Saham global tetap sangat bergantung pada sekelompok kecil pemimpin AI, menciptakan struktur reli yang tampak kuat di permukaan tetapi semakin rapuh di bawahnya," kata Stephen Innes, Analis SPI Asset Management.

Innes menambahkan bahwa Korea Selatan memiliki risiko besar sebagai negara yang akan merasakan dampak pertama jika terjadi koreksi pada sektor AI. Penilaian ini didasarkan pada posisi Korea Selatan sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi dunia.

"Ia percaya Korea Selatan mungkin termasuk di antara ekonomi utama pertama yang akan mengalami apa yang disebutnya sebagai fase redistribusi politik dari booming AI," tulis laporan tersebut.

Kawasan lain di Asia juga menunjukkan tren yang tidak seragam, di mana indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,4 persen ke angka 8.670,70. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong ditutup turun tipis di bawah 0,1 persen pada level 26.395,36 dan Shanghai Composite China turun 0,4 persen ke 4.210,44.

Tekanan pada pasar global diperparah oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran yang terus berlanjut. Harga minyak mentah AS meningkat menjadi 99,64 dollar AS per barel, sedangkan Brent melonjak ke posisi 105,51 dollar AS per barel di tengah penutupan jalur perdagangan Selat Hormuz.

Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa upaya perdamaian dengan Iran masih menemui jalan buntu. Langkah ini diambil setelah pihak Gedung Putih secara resmi tidak menerima tawaran terbaru yang diajukan oleh Teheran.

"kondisi kritis" ujar Donald Trump, Presiden AS.

Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi global meskipun Wall Street masih mampu mencetak rekor. Indeks S&P 500 naik 0,2 persen ke level 7.412,84, disusul Dow Jones yang menguat ke 49.704,47 dan Nasdaq yang menyentuh level tertinggi baru di 26.274,13.

Pada pasar valuta asing, dollar AS terpantau menguat terhadap yen Jepang ke posisi 157,43. Sementara itu, nilai tukar euro justru mengalami pelemahan terhadap dollar AS menjadi 1,1754 dari posisi sebelumnya di level 1,1787.

Artikel terkait

Rekomendasi