Bursa Saham Asia Melemah Imbas Aksi Jual Wall Street

Bursa Saham Asia Melemah Imbas Aksi Jual Wall Street

Bursa saham Asia diperkirakan mengalami penurunan pada awal perdagangan Senin (8/6/2026) menyusul aksi jual massal saham teknologi di Wall Street yang mengakhiri reli pasar selama sembilan minggu.

Kondisi pasar global juga dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Aksi jual di bursa Wall Street membuat indeks Nasdaq anjlok hingga 4,2 persen pada Jumat lalu setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang kuat memicu perkiraan kebijakan moneter ketat.

Penurunan tersebut menguji kekuatan reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan yang selama ini mendominasi penguatan pasar modal.

"Pertanyaan utamanya saat ini adalah apakah ini hanya jeda sehat setelah reli sembilan pekan atau justru menjadi sinyal pembentukan puncak pasar," ujar Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar BNY.

Savage menilai bahwa sentimen positif kecerdasan buatan sebagai penggerak utama pasar kini mulai menghadapi tantangan nyata.

"Pertanyaan utamanya saat ini adalah apakah ini hanya jeda sehat setelah reli sembilan pekan atau justru menjadi sinyal pembentukan puncak pasar," ujar Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar BNY.

Investor global saat ini mengalihkan perhatian pada rencana penawaran umum saham perdana berskala besar dari perusahaan seperti SpaceX, Anthropic, dan OpenAI yang berpotensi menyerap likuiditas pasar.

Selain sentimen IPO, pelaku pasar juga mengantisipasi rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Rabu (10/6/2026) serta pengumuman kebijakan suku bunga di Eropa dan Kanada.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melonjak 2,6 persen ke level US$ 95,45 per barel setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel sebagai respons atas serangan di Beirut.

Sementara itu dari pasar mata uang, dolar Amerika Serikat terus bergerak menguat dan bertahan di atas level 160 yen Jepang, yang sekaligus memberikan tekanan bagi sejumlah mata uang utama dunia lainnya.

Artikel terkait

Rekomendasi