Perdagangan di bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menunjukkan hasil yang beragam pada penutupan Senin, 18 Mei 2026 waktu setempat. Indeks Nasdaq dan S&P 500 mengalami penurunan karena para investor melakukan aksi ambil untung pada sektor teknologi.
Kondisi ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta lonjakan harga minyak yang kembali meningkatkan kecemasan pasar terhadap inflasi. Seperti dikutip dari Money, indeks Dow Jones Industrial Average justru mengalami penguatan sebesar 159,95 poin atau 0,32 persen menuju posisi 49.686,12.
Pada saat yang sama, S&P 500 terkoreksi tipis sebesar 5,45 poin atau 0,07 persen ke angka 7.403,05. Indeks Nasdaq Composite juga melemah sebesar 134,41 poin atau 0,51 persen sehingga bertengger pada level 26.090,73.
Biaya pinjaman global yang diukur melalui imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh angka tertinggi sejak Februari 2025. Hambatan pengiriman minyak di Selat Hormuz menjadi penyebab utama munculnya spekulasi bahwa inflasi global akan tetap berada di level tinggi.
Di pasar energi, harga minyak mentah AS ditutup menguat di atas 3 persen setelah melewati pergerakan yang sangat volatil. Sentimen tersebut sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda aksi militer terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi damai.
Menurut keterangan Donald Trump, pihak Iran telah mengirimkan draf proposal perdamaian yang baru ke Washington. Kendati demikian, ia memberikan peringatan bahwa militer Amerika Serikat tetap siap meluncurkan serangan apabila proses diplomasi tersebut tidak membuahkan hasil.
Manajer portofolio NFJ Investment Group di Dallas, Burns McKinney, memberikan pandangannya mengenai situasi pasar modal saat ini.
"Variabel utama saat ini adalah potensi blokade Selat Hormuz yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan risiko ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali dalam jangka panjang," ujar McKinney.
Burns McKinney juga menilai bahwa lonjakan imbal hasil obligasi memberikan tekanan berat pada sektor saham yang berdurasi panjang seperti industri cip dan teknologi. Menurut pengamatannya, pelaku pasar saham saat ini terlihat jauh lebih optimis dalam merespons isu geopolitik dibandingkan dengan para investor obligasi.
"Setiap beberapa hari muncul rumor mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dan saham kembali menguat. Investor mempercayainya, tetapi kemudian kembali kecewa karena konflik masih menemui jalan buntu," katanya.
Koreksi Setelah Reli Panjang Sektor Teknologi
Penurunan yang terjadi pada Nasdaq dan S&P 500 menjadi koreksi dalam dua hari beruntun setelah kedua indeks tersebut sempat mencetak reli kuat sejak akhir Maret 2026. S&P 500 tercatat telah melesat lebih dari 18 persen dari titik terendahnya pada 30 Maret yang lalu.
Pada rentang waktu yang sama, indeks Nasdaq melonjak hingga 28 persen akibat sentimen positif seputar implementasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey, menyebutkan bahwa pasar mulai mencemaskan laju kenaikan saham yang terlalu cepat.
"Ada kekhawatiran terhadap reli yang terjadi dalam periode singkat sehingga memicu aksi ambil untung," ucap Ghriskey.
Sektor teknologi informasi menjadi lini dengan penurunan terdalam di indeks S&P 500 setelah merosot sebesar 0,97 persen. Saham industri cip menjadi beban utama perdagangan, terlihat dari Philadelphia Semiconductor Index yang jatuh hingga 3,3 persen.
Sebaliknya, sektor energi mencatatkan kinerja terbaik dengan pertumbuhan mencapai 1,8 persen berkat dorongan dari kenaikan harga komoditas minyak. Saat ini, para pelaku pasar mengalkulasi adanya peluang sebesar 36,7 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Kinerja Saham Emiten Unggulan
Fokus perhatian para pemodal kini mengarah pada rilis laporan keuangan kuartalan dari Nvidia yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu pekan ini. Saham produsen cip kecerdasan buatan terbesar di dunia tersebut ditutup melemah 1,3 persen pada perdagangan Senin.
Selain Nvidia, emiten ritel raksasa Walmart juga bersiap memublikasikan kinerja keuangannya untuk mengukur daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi. Saham Walmart justru berhasil menguat sebesar 1,4 persen pada penutupan pasar.
Pergerakan signifikan lain ditunjukkan oleh saham Dominion Energy yang meroket sebesar 9,4 persen setelah adanya rencana akuisisi berbasis saham senilai 66,8 miliar dollar AS oleh NextEra Energy. Di sisi lain, saham NextEra Energy justru mengalami penurunan sebesar 4,6 persen.
Koreksi tajam menimpa Regeneron Pharmaceuticals yang sahamnya anjlok sebesar 9,8 persen setelah produk obat eksperimental mereka tidak mencapai target dalam uji klinis fase akhir bagi pasien kanker kulit.
Secara umum, jumlah emiten yang menguat masih mendominasi di Bursa Saham New York dengan rasio sebesar 1,09 berbanding 1. Untuk indeks Nasdaq, tercatat ada 2.238 saham yang bergerak naik dan sebanyak 2.637 saham ditutup melemah, dengan total volume perdagangan mencapai 20,86 miliar saham.