Pergerakan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street mencatatkan hasil yang beragam pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Tekanan hebat pada sektor teknologi terjadi seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia serta peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Dikutip dari Suara, indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,07 persen hingga mendarat di level 7.403,05. Pelemahan yang lebih mendalam menimpa indeks Nasdaq Composite yang didominasi oleh perusahaan teknologi, yaitu merosot 0,51 persen ke posisi 26.090,73.
Kondisi berbeda ditunjukkan oleh indeks Dow Jones Industrial Average. Indeks ini justru melaju positif dengan kenaikan sebesar 159,95 poin atau menguat 0,32 persen menuju level 49.686,12.
Aksi jual massal pada sektor chip memori menjadi pemicu utama ambruknya saham-saham teknologi. Saham Seagate Technology langsung terjerembab hampir 7 persen setelah pimpinan eksekutifnya memberikan pernyataan dalam konferensi JPMorgan bahwa pengerjaan pabrik baru memakan waktu terlalu lama.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran para pelaku pasar mengenai kapasitas industri chip memori dalam memenuhi lonjakan permintaan global. Situasi ini turut menyeret saham Micron Technology yang merosot hampir 6 persen.
Sentimen negatif ini juga berdampak pada Western Digital dan Sandisk yang masing-masing melemah sebesar 4,8 persen dan 5,3 persen. Bahkan, saham raksasa kecerdasan buatan seperti Nvidia serta Broadcom ikut terkoreksi sekitar 1 persen.
Koreksi ini memutus tren positif pekan lalu saat S&P 500 dan Nasdaq sukses mencetak rekor tertinggi baru, sementara Dow Jones kembali melewati level psikologis 50.000.
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi dan Harga Minyak
Peta pergerakan modal berubah haluan setelah imbal hasil obligasi pemerintah global merangkak naik. Imbal hasil obligasi Treasury AS dengan tenor 30 tahun dilaporkan telah menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir.
Kenaikan tingkat imbal hasil obligasi ini dinilai memberikan tekanan yang sangat berat bagi saham-saham teknologi. Padahal, sektor tersebut sebelumnya menjadi motor penggerak utama dalam penguatan Wall Street.
Faktor lain yang membayangi pergerakan pasar adalah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu lonjakan tajam pada harga komoditas minyak mentah.
Kontrak berjangka untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkerek naik sekitar 3 persen hingga bertengger di posisi USD108,66 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent mengalami penguatan di atas 2 persen menjadi USD112,10 per barel.
Aksi naik harga minyak sempat tertahan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan ke Iran. Langkah penundaan tersebut diambil atas permohonan dari negara Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Donald Trump menyampaikan bahwa saat ini sedang berlangsung proses negosiasi serius yang memiliki peluang untuk melahirkan kesepakatan yang dapat diterima oleh pihak AS.
Ketidakpastian Suku Bunga Fed
Para investor kini juga semakin pesimistis terhadap rencana pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS atau The Fed. Sikap pesimis ini muncul setelah melihat rilis data inflasi terbaru di negara tersebut.
"Memang ada masalah inflasi," kata CEO WEBs Investments, Ben Fulton, kepada CNBC.
"Fulton menyebut tingginya harga minyak sebagai isu titik balik. Akan sulit untuk melihat adanya penyeimbang," lanjut dia.
Menurut pandangan Fulton, jika tidak ada perkembangan yang positif terkait penyelesaian konflik di Timur Tengah, pergerakan pasar saham berpotensi menjadi terbatas. Hal ini dikarenakan para investor kini mulai beralih untuk mengamankan keuntungan yang telah didapat.
"I can see people starting to protect profits pretty quickly," tambah Fulton.