Bursa Saham Wall Street Ditutup Melemah Akibat Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Bursa Saham Wall Street Ditutup Melemah Akibat Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu kekhawatiran inflasi serta ketidakpastian situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Sektor teknologi menjadi penekan utama dalam pergerakan pasar kali ini, seperti dikutip dari Money. Akibat tekanan tersebut, indeks Nasdaq mencatat pelemahan selama tiga hari berturut-turut.

Berdasarkan data Reuters pada Rabu (20/5/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average merosot sebesar 322,24 poin atau 0,65 persen ke posisi 49.363,88. Sementara itu, indeks S&P 500 juga melemah 0,67 persen menuju level 7.353,61.

Koreksi yang lebih dalam dialami oleh Nasdaq Composite yang jatuh hingga 0,84 persen ke level 25.870,71. Pergerakan negatif ini terjadi seiring lonjakan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat menyentuh angka 4,687 persen.

Angka yield tersebut merupakan level tertinggi yang pernah dicapai sejak Januari 2025. Meskipun posisinya kemudian sedikit menurun ke kisaran 4,66 persen, kenaikan selama tiga hari beruntun tetap membuat para investor khawatir terhadap tekanan inflasi yang sulit mereda.

Situasi pasar semakin terbebani oleh tingginya harga minyak dunia yang bertahan di atas 110 dollar AS per barrel. Kondisi ini dipengaruhi oleh ketegangan konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

Pelaku pasar terus memantau dinamika diplomasi antara kedua negara. Langkah ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai penundaan serangan militer setelah adanya proposal perdamaian dari pihak Teheran.

Namun, Trump juga memberikan penegasan mengenai sikap Amerika Serikat ke depan.

"AS masih mungkin kembali menyerang Iran jika diperlukan," kata Trump.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance memberikan keterangan terkait perkembangan situasi politik tersebut.

"Pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan kedua pihak tidak menginginkan eskalasi perang kembali terjadi," ujar JD Vance.

Kendati demikian, para pelaku pasar menganggap situasi geopolitik saat ini masih belum memberikan kepastian yang cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran mereka. Managing Director Rosenblatt Securities Michael James memberikan pandangannya terkait kegelisahan pasar.

"Pasar mulai gelisah karena belum ada tanda-tanda gencatan senjata yang benar-benar solid. Selama konflik belum mereda, harga minyak dan yield obligasi akan tetap tinggi sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham," tutur Michael James.

Kenaikan yield obligasi ini pada akhirnya mengubah proyeksi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve. Investor kini mulai memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga acuan jika inflasi terus bertahan tinggi.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember telah mencapai 41,7 persen. Selain itu, peluang kenaikan sebesar 50 basis poin melonjak ke angka 15,7 persen dari posisi pekan sebelumnya yang hanya 4,7 persen.

Saat ini, perhatian investor tertuju pada risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dijadwalkan rilis pada Rabu waktu setempat. Dokumen tersebut dinanti untuk melihat indikasi arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Sektor material menjadi lini yang paling tertekan di bursa dengan mengalami penurunan mendekati 2,3 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan yang dinilai lebih defensif justru bergerak positif dengan penguatan mencapai 1,1 persen.

Untuk saham perangkat lunak, pergerakan sempat menguat pada awal sesi sebelum akhirnya berbalik turun 1,2 persen di akhir hari. Di sisi lain, indeks semikonduktor Philadelphia tampil fluktuatif dan ditutup stagnan dengan kenaikan tipis sebesar 0,03 persen.

Sikap berhati-hati juga ditunjukkan pelaku pasar menjelang rilis laporan keuangan raksasa chip kecerdasan buatan, Nvidia. Kinerja keuangan perusahaan ini dipandang sebagai indikator krusial untuk melihat tingkat permintaan teknologi AI sekaligus menguji kelayakan valuasi tinggi sektor semikonduktor.

Pada pergerakan saham individu, Akamai Technologies mencatat penurunan tajam sebesar 6,3 persen. Kejatuhan saham perusahaan layanan cloud ini terjadi setelah adanya pengumuman penawaran obligasi konversi dengan nilai 2,6 miliar dollar AS.

Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan di Wall Street didominasi oleh aksi jual. Pada Bursa New York (NYSE), perbandingan jumlah saham yang melemah terhadap saham yang menguat mencapai rasio 2,66 banding 1, hal serupa juga terjadi pada bursa Nasdaq.

Volume transaksi perdagangan di bursa saham AS tercatat menyentuh angka 19,45 billion saham. Jumlah tersebut terpantau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di angka 18,38 miliar saham.

Artikel terkait

Rekomendasi