Penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar USD1,3 miliar terjadi pada paruh akhir Mei 2026 hingga menyisakan posisi USD144,9 miliar per 26 Mei 2026. Data yang dilansir dari Medcom tersebut menunjukkan tren penyusutan likuiditas eksternal selama lima bulan berturut-turut.
Kondisi kemerosotan cadangan devisa ini berlangsung bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sekitar 8 persen sejak awal tahun. Tekanan tersebut mendorong mata uang Garuda menembus level Rp18.000 per dolar AS dan memicu perhatian serius dari para pelaku pasar.
Faktor utama penyusutan cadangan devisa bersumber dari pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing. Otoritas moneter melakukan intervensi demi meredam volatilitas akibat ketidakpastian keuangan global dan lonjakan musiman permintaan valas domestik, meski sebagian ditahan oleh penerbitan obligasi global serta penerimaan pajak dan jasa.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri menilai situasi ini mulai memengaruhi persepsi pasar terhadap ketahanan moneter nasional.
"Meski masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional, penurunan yang terus berlanjut mulai menarik perhatian pasar karena menunjukkan adanya erosi bertahap pada penyangga likuiditas eksternal yang selama ini mendukung stabilitas pasar keuangan dan rupiah," ujar Novani Karina Saputri, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Hubungan historis yang erat antara pergerakan cadangan devisa dan nilai tukar menjadikan kecukupan indikator ini sangat krusial bagi stabilitas pasar keuangan nasional.
"Meskipun posisi cadangan devisa masih berada pada level yang nyaman, pasar kini semakin memperhatikan kecepatan dan keberlanjutan penurunannya karena hal tersebut berpengaruh terhadap persepsi kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar," kata Novani Karina Saputri, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor yang baru diharapkan mampu menopang cadangan devisa, meski efektivitasnya masih bergantung pada konsistensi penegakan aturan serta faktor eksternal seperti suku bunga The Fed, geopolitik, dan harga komoditas.
"Bagi pasar, indikator utamanya cukup sederhana. Jika cadangan devisa dapat stabil pada paruh kedua 2026, tekanan terhadap rupiah dan premi risiko dapat lebih terkendali. Namun jika tren penurunan berlanjut, pasar akan mulai mempertanyakan kemampuan Bank Indonesia dalam meredam volatilitas, yang pada akhirnya berpotensi memicu penyesuaian yang lebih tajam pada aset domestik," kata Novani Karina Saputri, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.