Cadangan Minyak Global Menyusut Akibat Konflik Timur Tengah

Cadangan Minyak Global Menyusut Akibat Konflik Timur Tengah

Persediaan minyak global tengah mengalami penyusutan dengan kecepatan tertinggi sepanjang sejarah akibat terhambatnya pasokan dari Timur Tengah. Situasi tersebut memicu kecemasan terhadap potensi lonjakan harga minyak dan bahan bakar minyak (BBM) menjelang masa puncak konsumsi pada musim panas 2026.

Ancaman krisis energi ini dilaporkan terjadi akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, seperti dilansir dari Money yang mengutip Kompas.com pada Minggu (17/5/2026). Badan energi internasional, International Energy Agency (IEA), mengeluarkan peringatan bahwa volume cadangan minyak dunia terancam menyentuh level kritis jika jalur laut vital tersebut tidak segera dibuka kembali dalam waktu dekat.

"Penyusutan cepat cadangan di tengah gangguan yang terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang," tulis IEA.

Penutupan akses distribusi utama ini memaksa pasar global bergantung sepenuhnya pada simpanan yang ada. Kondisi ini diramal oleh lembaga keuangan global akan menekan sistem distribusi jika konsumsi terus berjalan tanpa adanya pemulihan pasokan.

"Penyusutan cepat cadangan di tengah berlanjutnya gangguan pasokan dapat menjadi sinyal awal terjadinya lonjakan harga berikutnya," tulis IEA.

Dampak penutupan jalur logistik ini dinilai belum sepenuhnya menghentikan aktivitas pasar berkat sokongan dari cadangan komersial industri serta minyak yang masih dalam pelayaran kapal tanker. Masalah ini mendapat perhatian serius dari pelaku industri energi global yang mengawasi pergerakan sisa pasokan.

"Kami memperkirakan jika hal itu terjadi dan selat tetap tertutup, kita akan terus melihat kenaikan harga di pasar," terang Woods, CEO Exxon Mobil.

Berdasarkan data Bank UBS, volume stok minyak global telah merosot dari posisi di atas 8 miliar barrel pada akhir Februari 2026 menjadi berkisar 7,8 miliar barrel pada akhir April 2026. Penurunan ini diproyeksikan dapat menembus rekor terendah yaitu 7,6 miliar barrel di akhir Mei 2026 jika pola permintaan stabil.

Analisis dari JPMorgan pada akhir April lalu menunjukkan bahwa dari miliaran barrel stok yang tercatat, hanya sekitar 800 juta barrel yang benar-benar bisa digunakan secara bebas. Sisa cadangan tersebut harus tetap berada di dalam pipa dan tangki penyimpanan demi menjaga kelancaran operasional sirkulasi distribusi.

"Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, masalahnya adalah sirkulasi," tutur Kaneva, Kepala strategi komoditas global JPMorgan.

Krisis volume kerja pada jaringan pipa ini berpotensi menurunkan cadangan hingga titik ekstrem sebesar 6,8 miliar barrel pada September 2026 jika ketegangan terus berlanjut. Di sisi lain, prediksi mengenai percepatan krisis pada produk bahan bakar jadi juga diungkapkan oleh lembaga riset lain.

"Sistem ini tidak gagal karena minyak menghilang, tetapi gagal karena jaringan sirkulasi tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup," lanjut Kaneva.

Pemangkasan persediaan diprediksi oleh Rapidan Energy berpotensi melumpuhkan jejaring transportasi global akibat kelangkaan bahan bakar. Kendati demikian, mekanisme pasar diperkirakan akan merespons melalui lonjakan harga terlebih dahulu sebelum stok benar-benar habis di pasaran.

"Ekonomi global akan lumpuh, dengan infrastructure transportasi penting yang tidak dapat memperoleh bahan bakar dengan harga berapa pun," tulis analis Rapidan Energy.

Lompatan harga energi ini diprediksi menjadi faktor penekan utama yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia secara drastis dalam waktu dekat. Fenomena ekonomi tersebut diperkirakan muncul sebelum memasuki paruh kedua tahun ini.

"Kemungkinan besar itu akan terjadi sebelum kuartal III 2026," tulis analis Rapidan Energy.

Artikel terkait

Rekomendasi