Calon Pensiunan Indonesia Paling Optimistis Amankan Dana Tua di Asia

Calon Pensiunan Indonesia Paling Optimistis Amankan Dana Tua di Asia

Calon pensiunan di Indonesia menempati posisi teratas dalam hal optimisme ketersediaan dana masa tua dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia.

Berdasarkan laporan Manulife Financial Resilience and Longevity 2025 yang dikutip dari Personalfinance, tercatat sebanyak 77% responden dari Indonesia merasa yakin memiliki tabungan yang memadai untuk menjalani masa pensiun.

Tingkat kepercayaan diri masyarakat Indonesia ini melampaui negara-negara lain yang turut disurvei oleh Manulife, seperti Malaysia, Filipina, dan Hong Kong.

Sebagai perbandingan, tingkat keyakinan terhadap kesiapan dana pensiun di Malaysia mencapai 58% dan Filipina sebesar 52%, sedangkan Hong Kong menjadi yang terendah dengan angka hanya 48%.

Meskipun tingkat optimisme tergolong tinggi, masyarakat di negara-negara tersebut rupanya masih cenderung mengandalkan instrumen kas, tabungan, atau deposito untuk membiakkan dana pensiun.

Secara rata-rata, alokasi penyimpanan dana masa tua pada instrumen kas tersebut menyerap hingga separuh dari total dana yang dipersiapkan.

Di Indonesia sendiri, para responden mengaku menaruh sekitar 49% dana pensiun mereka pada instrumen kas.

Sementara itu, masyarakat Hong Kong mengalokasikan 45% dana di instrumen serupa, sedangkan di Filipina dan Malaysia porsi investasi pada kas menyentuh angka 51%.

Asuransi menempati posisi sebagai pilihan investasi terbesar kedua, baik dalam bentuk asuransi tabungan maupun asuransi anuitas.

Warga Filipina mengalokasikan sekitar 23% dana mereka pada produk asuransi, diikuti oleh responden Hong Kong sebesar 21%, Indonesia 19%, dan Malaysia 18%.

Instrumen saham juga menjadi opsi berinvestasi bagi sebagian responden.

Masyarakat Hong Kong mengalokasikan sekitar 18% dana pensiun mereka di pasar saham, diikuti Indonesia sebesar 11%, Malaysia 10%, dan Filipina yang hanya mencatatkan angka 8%.

Faktor Risiko dan Pemahaman Investasi

Sebagian besar masyarakat masih memprioritaskan investasi kas sebagai aset nonproperti utama karena adanya kekhawatiran terhadap risiko kerugian atau kehilangan modal pada instrumen imbal hasil tinggi.

Alasan ketakutan kehilangan modal ini diungkapkan oleh 60% responden di Hong Kong, 58% di Malaysia, 55% di Indonesia, dan 50% di Filipina.

Selain faktor risiko, minimnya pengetahuan mengenai instrumen investasi menjadi pemicu lain mengapa responden lebih memilih mengamankan dana di sektor kas.

Keterbatasan pengetahuan ini diakui oleh 43% responden di Malaysia, 40% di Hong Kong dan Filipina, serta 30% responden di Indonesia.

Melalui riset yang sama, Manulife menemukan bahwa tiga hingga empat dari total 10 responden mengaku tidak memiliki pemahaman yang benar-benar mendalam terkait investasi.

Terdapat pula kecenderungan menarik di mana sekitar 26% responden di Filipina memanfaatkan simpanan kas untuk rencana pembelian aset properti.

Langkah serupa juga diambil oleh 23% responden di Indonesia, 21% di Hong Kong, dan 18% di Malaysia.

Kendati demikian, hasil studi Manulife ini memperlihatkan bahwa lebih dari setengah responden setuju terhadap urgensi memindahkan investasi kas mereka ke instrumen dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi.

Artikel terkait

Rekomendasi