Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai dampak penurunan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan masyarakat pedesaan menuai kritik tajam dari sejumlah kalangan, seperti dilansir dari Nasional pada Minggu (17/5/2026).
Kritik tersebut muncul setelah mata uang rupiah merosot hingga menyentuh angka Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS), yang dinilai akan mendongkrak biaya hidup secara langsung.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memberikan pandangan bahwa dampak fluktuasi mata uang global ini akan menjalar hingga ke tingkat desa.
"Prabowo kayaknya perlu di-briefing soal ekonomi 101. Jangan dikira pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa," ujar Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios.
Bhima Yudhistira menambahkan bahwa ketergantungan masyarakat modern terhadap barang impor dan energi saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat krisis tahun 1998, sehingga kebijakan subsidi energi tidak lagi cukup kuat menahan dampak ekonomi global.
Penduduk di wilayah pedesaan dinilai tetap menggunakan barang-barang yang memiliki komponen impor, mulai dari alat elektronik, kendaraan, telepon genggam, hingga kebutuhan sektor pertanian seperti pupuk.
Selain masalah inflasi barang, potensi terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di kawasan perkotaan dikhawatirkan akan memicu migrasi pekerja kembali ke kampung halaman.
"Desa itu akan dibanjiri oleh mereka yang jadi korban PHK di perkotaan, kembali lagi ke desa tapi dalam posisi tidak bekerja, tidak berpenghasilan. Kan akan jadi beban desa," imbuh Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios.
Pemerintah diharapkan segera menyusun langkah mitigasi guna mengantisipasi pemburukan situasi ekonomi dunia melalui pemberian stimulus serta pola komunikasi publik yang lebih transparan.
"Jadi kami sangat menyesalkan Prabowo terlalu menganggap enteng situasi sekarang," katanya Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios.
Kritik dari ekonom ini merespons pernyataan yang disampaikan sebelumnya oleh Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026).
Saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah, Kepala Negara menegaskan bahwa ketahanan pangan dan energi nasional membuat fondasi ekonomi domestik tetap kokoh.
Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan keyakinannya bahwa warga di area pedesaan memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi gejolak ekonomi eksternal.
"Sekarang ada yang selalu bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.