Amerika Serikat dan China mencapai kesepakatan dagang besar termasuk rencana pembelian 200 unit pesawat Boeing oleh Beijing setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing pada Jumat (15/5). Kesepakatan ini menandai langkah awal pemulihan hubungan ekonomi kedua negara yang sempat menegang dalam beberapa tahun terakhir, dilansir dari Internasional.
Pembelian armada dirgantara tersebut menjadi sorotan utama karena mengakhiri absennya pesanan pesawat komersial buatan Amerika Serikat oleh China selama hampir satu dekade. Selain sektor penerbangan, kesepakatan mencakup rencana Washington untuk meningkatkan nilai ekspor produk pertanian ke China hingga puluhan miliar dolar dalam beberapa tahun mendatang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan rincian mengenai jumlah pesanan pesawat yang melampaui target awal dari pihak produsen. Menurutnya, kesepakatan ini merupakan langkah krusial dalam hubungan dagang kedua negara.
"Boeing awalnya menginginkan 150, mereka mendapatkan 200," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Meskipun pesanan telah dipastikan, Trump tidak memerinci jenis pesawat yang akan dikirimkan ke China. Kondisi ini memicu kekecewaan di kalangan investor yang sebelumnya mengharapkan pesanan hingga 500 unit, termasuk seri 737 Max, sehingga saham Boeing sempat terkoreksi 4,7% pada perdagangan after-hours.
Analis Bloomberg Intelligence George Ferguson memberikan penilaian atas reaksi pasar terhadap jumlah pesanan tersebut. Ferguson menyebut ekspektasi investor sebelumnya berada jauh di atas angka yang diumumkan pemerintah.
"Pesanan 200 pesawat masih mengecewakan pasar yang berharap 300 unit atau lebih," ujar George Ferguson, Analis Bloomberg Intelligence.
Bagi Boeing, komitmen China ini sangat berarti untuk memperbaiki posisi pasar setelah tertinggal dari Airbus yang telah membukukan pesanan 700 pesawat dari maskapai China sejak 2022. Sebagai perbandingan, Boeing tercatat hanya mendapatkan pesanan 39 pesawat dari China sepanjang dekade ini akibat krisis teknis dan ketegangan geopolitik.
Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer memproyeksikan adanya lonjakan signifikan pada volume perdagangan komoditas agrikultur. Greer menjelaskan bahwa target pembelian tahunan akan mencakup spektrum produk pertanian yang luas.
"Kami berharap ada kesepakatan pembelian produk pertanian bernilai puluhan miliar dolar AS per tahun selama tiga tahun ke depan," kata Jamieson Greer, Perwakilan Dagang Amerika Serikat.
Greer menegaskan bahwa fokus pembelian tersebut tidak hanya terbatas pada komoditas kedelai, melainkan gabungan dari berbagai produk pertanian Amerika Serikat lainnya secara agregat. Namun, upaya peningkatan ekspor ini menghadapi tantangan dari sisi kompetisi harga global.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memberikan catatan tambahan mengenai komitmen impor kedelai yang sebenarnya telah disepakati sebelumnya. Ia menyoroti ketergantungan pasar pada data komitmen yang sudah ada hingga 2028.
"China diketahui telah berkomitmen mengimpor 25 juta ton kedelai AS per tahun hingga 2028," kata Scott Bessent, Menteri Keuangan Amerika Serikat.
Data perdagangan menunjukkan ketergantungan China terhadap kedelai Amerika Serikat terus menurun, dari 41% pada tahun 2016 menjadi 20% pada tahun 2024. Saat ini, China lebih banyak beralih ke Brasil untuk mendapatkan pasokan kedelai yang dinilai lebih kompetitif di pasar global.