Pemerintah China sepakat membeli 200 unit pesawat jet Boeing dari Amerika Serikat dengan potensi penambahan pemesanan hingga mencapai total 750 unit pesawat. Pengumuman komitmen pembelian armada baru ini disampaikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu, 16 Mei 2026, dilansir dari Detik Finance.
"Kesepakatan itu mencakup sekitar 200 pesawat dan janji hingga 750 pesawat jika mereka berkinerja baik," kata Trump di dalam pesawat Air Force One seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (16/5/2026).
Rincian mengenai jenis jet dan waktu pengiriman belum tersedia secara mendetail, namun seluruh pesawat dipastikan akan diproduksi oleh GE Aerospace. Pemesanan pesawat model 777 dan 737 ini bakal menjadi kesepakatan besar pertama antara Boeing dan China dalam waktu hampir satu dekade terakhir.
"Dia (Xi) berkomitmen untuk 200 pesawat Boeing, yang besar, 777, dan 737, dan banyak sekali pesawat Boeing yang besar, besar, dan indah," kata Trump dalam wawancara kepada Fox News.
Nilai pesanan 200 pesawat tersebut diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi produsen asal Amerika Serikat tersebut. Perusahaan intelijen penerbangan IBA memberikan estimasi total nilai transaksi awal ini berdasarkan komposisi jenis pesawat jet yang dipesan.
"Namun, angka ini bisa meningkat menjadi US$ 25 miliar (Rp 439,9 triliun) jika proporsi yang lebih besar, sekitar 40%, dari total pesanan diumumkan untuk pesawat berbadan lebar," kata Samuel Kenekueyero dari IBA.
Meskipun jumlah transaksi ini bernilai fantastis, komitmen awal tersebut diyakini masih berada di bawah target negosiasi awal yang diharapkan oleh pihak pabrikan. Faktor jaminan perawatan dan situasi kebijakan ekspor suku cadang menjadi pertimbangan utama bagi pihak pembeli dari Negeri Tirai Bambu.
"Alasan China tidak membeli sangat sederhana, tidak ada yang mau membeli sesuatu tanpa jaminan perawatan dan dukungan setelah pembelian. Mei lalu, AS masih mengancam pembatasan ekspor suku cadang. Jika mereka memberlakukan embargo suku cadang seperti itu, siapa yang masih berani membeli Boeing?," kata pakar independen di industri penerbangan China, Li Hanming.
Sebagai langkah diplomasi lanjutan, Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bakal melakukan kunjungan balasan ke Amerika Serikat pada September mendatang.