Penurunan nilai tukar rupiah diprediksi bakal menekan industri pembiayaan kendaraan bermotor akibat potensi penurunan permintaan dan peningkatan risiko kualitas kredit. Antisipasi terhadap tantangan ekonomi tersebut kini tengah disiapkan oleh pelaku industri multifinance nasional di Jakarta pada Jumat (29/5/2026).
Kondisi pasar otomotif saat ini dilaporkan sedang mencermati dinamika mata uang asing. Dilansir dari Keuangan, pelemahan mata uang garuda dalam jangka pendek diperkirakan memicu perlambatan pertumbuhan bisnis pembiayaan.
"Pelemahan rupiah secara jangka pendek berpotensi memberikan dampak terhadap industri pembiayaan, khususnya pada permintaan pembiayaan kendaraan yang mungkin akan mengalami perlambatan," ujar Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF.
Faktor lain seperti lonjakan harga jual unit kendaraan juga membayangi industri ini. Tekanan ekonomi tersebut dikhawatirkan mengganggu kemampuan membayar dari para nasabah.
"Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi saat ini," lanjut Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF.
Manajemen perusahaan memproyeksikan sektor otomotif masih menghadapi tantangan berat pada sisa tahun 2026. Kendati demikian, pembiayaan kendaraan motor dan mobil diperkirakan tetap tumbuh moderat seiring proyeksi pulihnya daya beli masyarakat.
Langkah mitigasi risiko yang diambil oleh perusahaan meliputi penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Fokus penawaran diarahkan pada segmen nasabah dengan profil keuangan yang kuat, disertai pengawasan portofolio secara berkala.
Catatan kinerja perseroan menunjukkan tren positif sebelum tekanan ekonomi ini menguat. Hingga April 2026, akumulasi penyaluran kredit baru untuk segmen mobil baru maupun bekas di CNAF telah menembus angka Rp 1,97 triliun.