PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) berhasil menekan biaya pendanaan atau cost of fund hingga kuartal I-2026 di Jakarta pada Senin (18/5/2026) meskipun sektor pembiayaan sedang menghadapi tren kenaikan suku bunga perbankan serta yield obligasi.
Kondisi industri multifinance saat ini dinilai rentan terhadap fluktuasi suku bunga akibat ketergantungan yang tinggi pada sektor perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026, aliran dana dari perbankan mendominasi modal perusahaan pembiayaan sebesar 73,65 persen atau mencapai Rp 279,74 triliun, sebagaimana dilansir dari Keuangan.
Penurunan biaya pendanaan ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen perusahaan yang mencatatkan angka pengeluaran sebesar Rp 132 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut memperlihatkan efisiensi dibanding kuartal pertama tahun lalu yang menyentuh angka Rp 142 miliar.
“Secara rasio, CoF periode Maret 2026 sebesar 6,29%, menurun dibandingkan periode Desember 2025 sebesar 6,71% maupun Maret 2025 sebesar 6,61%,” ujar Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF.
Manajemen perusahaan menegaskan tidak ada perombakan masif dalam skema pencarian modal operasional. Langkah yang diambil berfokus pada minimalisasi beban biaya melalui diversifikasi pendanaan lewat skema joint financing (JF) dan non joint financing (NJF), baik dari pasar modal ataupun pinjaman bank.
“Selain itu, perseroan juga berencana menerbitkan obligasi berkelanjutan secara bertahap guna memperoleh skema harga terbaik di pasar,” lanjut Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF.
Langkah pengamanan profitabilitas juga diimbangi dengan perluasan variasi produk pembiayaan masyarakat, seperti sektor pembiayaan emas dan haji. Guna mempercepat penetrasi pasar kepada konsumen, perusahaan mengoptimalkan aplikasi digital CNAF Mobile.
“Kombinasi strategi tersebut terbukti mampu menjaga kinerja bisnis CNAF tetap produktif dan tumbuh stabil di tengah tantangan ekonomi,” tutur Ristiawan Suherman, Presiden Direktur CNAF.