Ray Dalio Sebut Transparansi Bitcoin Hambat Adopsi Bank Sentral

Ray Dalio Sebut Transparansi Bitcoin Hambat Adopsi Bank Sentral

Miliarder pengelola dana lindung nilai Ray Dalio menyatakan bahwa transparansi penuh Bitcoin menjadi kendala bagi bank sentral untuk mengadopsinya sebagai aset cadangan pada Senin, 11 Mei 2026. Pendiri Bridgewater Associates tersebut membandingkan karakteristik Bitcoin dengan emas yang dianggapnya lebih mapan dalam sistem keuangan global.

Dalio menekankan bahwa sifat buku besar publik pada blockchain memungkinkan pelacakan transaksi secara real-time oleh pihak mana pun. Hal ini menurutnya menjadi pertimbangan utama bagi institusi moneter negara dalam mengelola aset mereka secara privat.

"Bitcoin lacks privacy. Transactions can be monitored and potentially controlled, which is why central banks aren't looking to hold it," kata Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates.

Selain masalah privasi, Dalio menyoroti korelasi tinggi antara Bitcoin dengan saham teknologi di bursa Nasdaq yang mencapai koefisien 0,89. Ia berargumen bahwa struktur pasar Bitcoin yang relatif kecil membuatnya lebih mudah dipengaruhi dibandingkan pasar emas.

"Ultimately, gold is more widely held, deeply established, and still plays a central role in the global system," ujar Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari para petinggi industri kripto yang mempertahankan keunggulan teknologi blockchain. Michael Saylor dari Strategy memberikan pembelaan dengan membedakan karakteristik fisik dan digital dari kedua aset tersebut.

"Gold is analog capital. Bitcoin is digital capital," tulis Michael Saylor, Executive Chairman Strategy.

Saylor berpendapat bahwa keterbukaan informasi pada jaringan Bitcoin justru merupakan nilai tambah yang mendukung fungsinya sebagai jaminan global. Ia mencatat bahwa performa Bitcoin telah melampaui emas sejak perusahaannya mulai menimbun aset tersebut pada Agustus 2020.

"Transparency is a feature, not a bug, making $BTC suitable as global collateral," kata Michael Saylor, Executive Chairman Strategy.

Lebih lanjut, Saylor memberikan data pembanding mengenai rasio Sharpe yang lebih tinggi pada Bitcoin dibandingkan logam mulia. Ia menepis kekhawatiran Dalio mengenai risiko pengendalian aset melalui pemantauan transaksi.

"….Bitcoin has outperformed gold with a higher Sharpe ratio," tutur Michael Saylor, Executive Chairman Strategy.

Kritik serupa juga datang dari CEO JAN3 Samson Mow yang menyarankan agar investor kawakan tersebut lebih mendalami aspek privasi pada protokol Bitcoin. Mow secara langsung menentang klaim Dalio mengenai kerentanan privasi pengguna.

"Bitcoin doesn’t lack privacy at all. You need to educate yourself," tulis Samson Mow, CEO JAN3.

Sentimen pasar saat ini menunjukkan pergerakan yang kontras, di mana harga Bitcoin berada di level 80.949 dolar AS atau turun lebih dari 35 persen dari rekor tertingginya. Sementara itu, koin yang berfokus pada privasi seperti Zcash justru mengalami lonjakan signifikan lebih dari 800 persen sejak awal 2025.

"Bitcoin does not have privacy," kata Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates.

Dalio menambahkan kekhawatirannya dalam sebuah wawancara mengenai potensi kontrol tidak langsung terhadap aliran dana digital. Ia tetap memegang teguh posisinya bahwa emas adalah pelindung nilai yang lebih aman dalam periode tekanan ekonomi.

"Any transactions can be monitored… and then indirectly perhaps controlled," ujar Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates.

Data dari Stocktwits menunjukkan sentimen ritel terhadap Bitcoin saat ini berada di zona netral di tengah volatilitas pasar. Di sisi lain, harga emas spot juga mencatatkan penurunan lebih dari 15 persen sejak mencapai puncaknya pada Januari lalu.

"While Bitcoin gets a lot of attention, it hasn’t played the safe-haven role many expected," kata Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates.

Artikel terkait

Rekomendasi