Sertu AW dan Penjaga Toko di Kemayoran Sepakat Damai Usai Keributan

Sertu AW dan Penjaga Toko di Kemayoran Sepakat Damai Usai Keributan

Perselisihan antara seorang prajurit TNI AD berinisial Sertu AW dengan penjaga toko kelontong Adi Jaya di Jalan Kodam Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, berakhir dengan kesepakatan damai pada Senin (4/5/2026). Insiden yang dipicu masalah biaya administrasi QRIS senilai Rp 1.000 tersebut sempat menyebabkan perusakan fasilitas toko dan pengeroyokan terhadap warga sipil.

Kapolsek Kemayoran Kompol Agung Ardiansyah mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah menempuh jalur kekeluargaan untuk menyelesaikan perkara ini. Menurut laporan Kompas.com, tidak ada korban jiwa dalam bentrokan yang sempat viral di media sosial tersebut.

"Kedua belah pihak sepakat berdamai secara kekeluargaan," ujar Agung Ardiansyah, Kapolsek Kemayoran.

Ketua RT 09/RW 07 Sumur Batu, Bambang, menjelaskan bahwa keributan terjadi pada Minggu (3/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, seorang korban bernama Dedi sempat menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati sebelum akhirnya diizinkan pulang ke rumah.

"Untuk kronologisnya saya nggak ada di tempat, posisi saya di Tangerang. Jadi inti permasalahannya saya kurang jelas," kata Bambang, Ketua RT 09/RW 07 Sumur Batu.

Bambang menambahkan bahwa informasi awal mengenai penyebab kegaduhan tersebut memang berpusat pada biaya tambahan transaksi digital. Meski demikian, penandatanganan surat perjanjian damai sudah dilakukan oleh pemilik warung dan pihak terkait.

"Infonya karena admin QRIS, tapi itu baru informasi ya," ucap Bambang.

Terkait penyelesaian masalah tersebut, Bambang menekankan bahwa status hukum kasus ini telah dianggap selesai oleh para pihak yang bertikai.

"Tadi saya telepon pemiliknya, katanya sudah selesai. Sudah ada perjanjian damai, sudah tanda tangan dari kedua pihak," kata Bambang.

Seorang saksi mata di lokasi bernama Maya membeberkan kronologi saat Sertu AW emosi karena tidak terima dikenakan biaya admin saat membeli rokok. Perselisihan verbal berubah menjadi aksi kekerasan fisik setelah seorang penjaga toko melontarkan kalimat yang menyinggung fisik prajurit tersebut.

"Kejadiannya karena QRIS, setahu saya. Gara-gara QRIS," ujar Maya, warga sekitar.

Menurut Maya, penjaga toko sebenarnya sudah menawarkan solusi pembayaran tunai untuk menghindari biaya admin, namun pelaku tidak membawa uang cash.

"Itu karena ada potongan dari adminnya dan segala macamnya," tutur Maya.

Maya melanjutkan bahwa Sertu AW sempat menggertak penjaga toko dengan statusnya sebagai aparat militer.

"Penjaga toko juga sempat menyarankan agar pembayaran dilakukan secara tunai saja jika tidak mau ada biaya admin. Tapi pelakunya itu tidak bawa cash, sehingga dia cekcok," jelas Maya.

Aksi teriakan dari penjaga toko perempuan memicu reaksi fisik dari oknum prajurit tersebut di tengah perdebatan.

"Dikatakan, 'Kalau kamu anggota, mau apa? Mau borgol saya?', gitu. Terus terjadi cekcok, ya sudah akhirnya marah-marah," tutur Maya.

Situasi semakin memanas setelah adanya ejekan yang membuat pelaku melakukan pemukulan terhadap wajah penjaga toko.

"Mbak-mbak itu mengatakan 'jelek', 'dasar jelek' gitu," lanjut Maya.

Setelah terjadi gontok-gontokan, pelaku dilaporkan menggunakan tabung gas 3 kg untuk menghancurkan barang-barang di dalam toko.

"Bangun lagi lalu mukul suaminya mbaknya tadi. Pukul-pukulan di situ. Habis itu mungkin dia belum puas, lalu ambil gas 3 kg langsung menghancurkan semuanya," jelas Maya.

Kerusakan yang timbul meliputi etalase rokok, kulkas es krim, hingga galon air mineral yang berserakan di depan toko.

"Penjaga toko disuruh keluar, dipukuli. Dia luka-luka di muka, kaki dan badan yang saya lihat," ujar Maya.

Maya juga menyinggung adanya dugaan penusukan yang dialami prajurit tersebut, meski informasi ini masih simpang siur di lapangan.

"Terus akhirnya teman-temannya geram, langsung dihancurkan lagi (toko). Katanya sih dengar-dengar ada (penusukan)," kata Maya.

Ia meragukan terjadi penusukan oleh penjaga toko dan menduga luka tersebut akibat benda tajam yang dibawa pelaku sendiri.

"Cuma ternyata saya dengar dari orang dalamnya (pihak toko) enggak ada. Dia kena barang yang dia pegang sendiri, gunting atau apa gitu," imbuh Maya.

Saksi lainnya, Edi, yang merupakan pedagang buah, membenarkan adanya penggunaan tabung gas dalam aksi perusakan tersebut.

"Awalnya nggak tahu, tiba-tiba ada suara berisik. Kirain lagi nurunin barang," ujar Edi, saksi mata.

Edi sempat mendekat dan melihat langsung kaca etalase hancur berantakan.

"Dia ambil tabung, dipukul ke etalase. Pecah," katanya.

Ia menyebutkan bahwa hanya ada satu orang utama yang melakukan perusakan sementara warga lain mencoba menahan aksi tersebut.

"Yang mukul satu orang, yang melerai ada beberapa," ucap Edi.

Kadispen TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono memastikan bahwa Sertu AW saat ini dirawat di RS Hermina Kemayoran karena luka tusuk. Ia menegaskan pihak Polisi Militer sedang mendalami fakta secara utuh bersama Polres Metro Jakarta Pusat.

"Iya (sudah monitor). Sudah ditangani POM," ujar Roby Saputra, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat.

Pihak TNI AD memberikan pernyataan resmi bahwa insiden ini merupakan dampak dari kesalahpahaman saat bertransaksi.

"Dapat kami sampaikan bahwa memang benar telah terjadi insiden keributan antara seorang prajurit TNI AD dengan warga sipil di lokasi tersebut," ujar Donny Pramono, Kadispen TNI AD.

Donny menekankan bahwa Sertu AW justru menjadi korban dalam peristiwa awal di warung tersebut.

"Dalam peristiwa itu, justru prajurit TNI AD atas nama Sertu AW mengalami luka akibat penusukan oleh pemilik warung," kata Donny.

Terkait kondisi toko yang berantakan, Donny menyebut hal itu terjadi saat situasi di lapangan sudah sangat memanas.

"Namun demikian, seluruh peristiwa ini saat ini telah ditangani oleh Polres Jakarta Pusat dan juga didalami oleh pihak terkait untuk memastikan fakta secara utuh," tutur Donny.

TNI AD meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh video viral yang tidak utuh.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh potongan video yang beredar di media sosial yang belum tentu menggambarkan kejadian secara lengkap. TNI AD memastikan bahwa setiap prajurit yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku apabila terbukti melakukan pelanggaran," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi