Sejumlah sektor industri berbasis ekspor di Indonesia diprediksi meraih keuntungan besar di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang ditutup pada level Rp 17.597 pada Jumat (15/5/2026).
Kondisi ini menjadikan harga produk lokal lebih kompetitif di pasar global, meski di sisi lain industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan biaya produksi tinggi, sebagaimana dilansir dari Money.
Mata uang Garuda mencatatkan pelemahan sebesar 0,39 persen di pasar spot setelah sebelumnya sempat anjlok ke angka Rp 17.600 per dollar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi.
Presiden Direktur Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, menjelaskan bahwa fenomena ini menjadi berkah bagi perusahaan yang memiliki orientasi pasar luar negeri karena daya tarik produk Indonesia meningkat di mata pembeli asing.
"Yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah adalah industri yang pangsa pasarnya orang asing karena barang-barang Indonesia dianggap lebih murah dengan nilai dollar AS mereka yang menguat, sehingga menarik lebih banyak pembeli," ujar Ariston Tjandra, Presiden Direktur Doo Financial Futures.
Peningkatan margin laba terjadi karena para eksportir menerima pendapatan dalam dollar AS, sementara operasional dan bahan baku banyak yang masih menggunakan mata uang rupiah.
"Keuntungan juga menjadi dobel karena penjualan dalam dollar AS dengan bahan baku rupiah. Contohnya Eksportir apapun misalnya tambang, hasil pertanian dan perkebunan," paparnya Ariston Tjandra, Presiden Direktur Doo Financial Futures.
Sektor pariwisata turut mendapat imbas positif karena menguatnya dollar AS meningkatkan daya beli turis mancanegara yang berkunjung ke destinasi wisata tanah air.
"Penguatan dollar AS juga bisa mendatangkan banyak turis asing untuk berbelanja di dalam negeri," beber Ariston Tjandra, Presiden Direktur Doo Financial Futures.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menyoroti sisi sebaliknya di mana industri tekstil, kimia, dan farmasi mengalami kerentanan akibat ketergantungan pada komponen luar negeri.
"Pertama ya, itu kan bahan baku penolong buat industri. Yang industri tekstil. Itu kan bahan bakunya itu sebagian besar impor. Kemudian industri bahan kimia ini juga terdampak bahan bakunya impor," ucap Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.
Kenaikan ongkos produksi pada sektor manufaktur dan otomotif diperkirakan akan memaksa perusahaan melakukan penyesuaian harga jual di tingkat konsumen atau melakukan langkah penghematan internal.
"Mungkin itu terdampak sebagian. Kemudian industri obat-obatan itu sebagian besar impor. Termasuk juga kendaraan otomotif yang tidak diproduksi di Indonesia masih ikut naik," tukas Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.
Tauhid juga memperingatkan adanya risiko efisiensi tenaga kerja jika tekanan biaya operasional terus berlanjut tanpa adanya langkah mitigasi dari pemerintah.
"Kalau makanan, minuman, rasanya tidak terlalu ya untuk domestik, tapi yang lain saya kira akan terdampak. Saya kira mungkin itu yang terdampak," kata Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.
Guna menjaga stabilitas industri, pemerintah disarankan memberikan insentif berupa pengurangan bea masuk atau pembebasan PPN bagi komoditas penting yang dibutuhkan produsen nasional.
"Punya peluang untuk terjadi efisiensi," kata Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.
Selain kebijakan fiskal, dukungan berupa insentif kurs bagi importir yang memiliki beban pembiayaan valuta asing dianggap krusial untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.
"Pengurangan atau pembebasan bea masuk bagi komoditas rumah tangga, pengurangan tarif impor, pembebasan PPN untuk barang tertentu, insentif kurs. Khususnya bagi kredit untuk importir," kata Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.