Danantara Berpotensi Percepat Transisi Energi dan Perkuat Fiskal

Danantara Berpotensi Percepat Transisi Energi dan Perkuat Fiskal

KOMPAS.com - Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berpotensi menjadi motor percepatan transisi energi di Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan fiskal negara dalam jangka panjang.

Dalam laporan terbarunya, IEEFA menyoroti model pendanaan Danantara yang berbeda dengan mayoritas sovereign wealth fund (SWF) di dunia.

Jika banyak SWF mengandalkan surplus fiskal atau pendapatan sumber daya alam, Danantara justru bertumpu pada konsolidasi dividen badan usaha milik negara (BUMN).

Namun, lembaga itu mengingatkan ketergantungan terhadap sektor energi fosil masih menjadi tantangan besar. Dua penyumbang dividen terbesar, yakni PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), masih sangat bergantung pada subsidi dan kompensasi pemerintah.

Nilai subsidi dan kompensasi untuk Pertamina dan PLN tercatat mencapai Rp 374 triliun atau sekitar 23,6 miliar dollar AS, lebih dari dua kali lipat kontribusi dividen tujuh BUMN utama kepada Danantara. Tanpa dukungan fiskal tersebut, kedua perusahaan disebut berpotensi mencatatkan kerugian bersih.

Research & Engagement Lead IEEFA, Mutya Yustika, mengatakan ketergantungan pada batu bara serta impor minyak dan gas membuat sektor energi nasional rentan terhadap gejolak harga global dan fluktuasi nilai tukar.

“Padahal, ada jalur yang lebih stabil, yakni dengan memanfaatkan energi terbarukan sebagai sumber daya domestik tanpa biaya bahan bakar dan risiko mata uang yang lebih rendah,” ujar Mutya dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).

Reformasi struktural

IEEFA menilai Danantara perlu mendorong reformasi struktural melalui pengurangan ketergantungan subsidi, peningkatan efisiensi operasional, serta percepatan investasi energi terbarukan.

Langkah tersebut dinilai penting agar target kontribusi dividen sebesar Rp 800 triliun per tahun terhadap APBN dapat tercapai secara berkelanjutan.

Dalam laporan itu, Danantara juga didorong untuk memperluas investasi pada aset berkelanjutan, seperti energi terbarukan, jaringan transmisi listrik, rantai pasok kendaraan listrik, hingga infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.

IEEFA mencontohkan strategi Temasek Holdings di Singapura yang mulai mengurangi eksposur terhadap energi fosil dan memperbesar investasi hijau.

Salah satu portofolionya, Sembcorp Industries, mencatatkan kenaikan harga saham sekitar 217 persen sejak menerapkan strategi transisi energi pada 2020.

Selain investasi energi bersih, Danantara juga dinilai dapat mengambil peran dalam pengembangan pasar karbon domestik yang lebih kredibel, termasuk melalui mekanisme blended finance, obligasi hijau, hingga penerapan harga karbon internal pada perusahaan-perusahaan portofolionya.

Energy Finance Analyst IEEFA Indonesia, Yusuf Kresna, mengatakan transformasi tersebut dapat memperkuat posisi Danantara sebagai instrumen stabilitas fiskal sekaligus katalis transisi energi nasional.

“Jika Indonesia mampu mengarahkan ekosistem BUMN menuju profitabilitas dan ketahanan, Danantara dapat menjadi pilar stabilitas fiskal sekaligus katalis transisi energi bersih,” ujar Yusuf.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel terkait

Rekomendasi