Data Inflasi AS April 2026 Pengaruhi Kurs Rupiah dan Suku Bunga Fed

Data Inflasi AS April 2026 Pengaruhi Kurs Rupiah dan Suku Bunga Fed

Amerika Serikat dijadwalkan mengumumkan data inflasi April atau Consumer Price Index (CPI) pada Selasa, 12 Mei 2026. Laporan ini menjadi rujukan krusial bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan.

Dikutip dari Money, lonjakan inflasi yang melebihi ekspektasi pasar berpotensi memperkuat posisi dollar AS. Kondisi ini dikhawatirkan akan memberikan tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah Indonesia.

Investor cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang untuk dipindahkan kembali ke AS jika suku bunga tetap tinggi. Perpindahan modal besar-besaran tersebut memicu lonjakan permintaan dollar dan melemahkan mata uang rupiah.

Pasar memprediksi inflasi tahunan AS akan menyentuh angka 3,7 persen, meningkat dari periode sebelumnya yang berada di level 3,3 persen. Angka tersebut diperkirakan menjadi kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Sementara itu, inflasi inti atau core CPI diproyeksikan tertahan di level 2,7 persen secara tahunan. Tingginya angka inflasi ini kemungkinan besar memaksa The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Berdasarkan data Reuters, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik regional telah mengerek biaya bahan bakar seperti bensin dan solar. Hal tersebut secara langsung berdampak pada percepatan tingkat inflasi bulanan di Amerika Serikat.

Dampak Politik dan Transisi Kepemimpinan Fed

Tingginya inflasi berturut-turut menciptakan risiko politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu mendatang. Meskipun memenangkan pemilu 2024 dengan janji menekan inflasi, publik mulai merasa kecewa dengan kondisi ekonomi saat ini.

Profesor ekonomi Boston College Brian Bethune menyatakan ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup yang terus mencekik.

"Mereka pada dasarnya hanya berdiam diri di permukaan, sekarang mereka ditarik ke bawah permukaan. Tidak ada udara untuk bernapas," kata dia.

Momentum rilis data inflasi ini juga bertepatan dengan masa transisi di pucuk pimpinan bank sentral AS. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed dijadwalkan berakhir pada Jumat, 15 Mei 2026.

Faktor Biaya Kesehatan dan Pangan

Selain energi, inflasi inti diperkirakan terkerek oleh kenaikan biaya perawatan kesehatan yang sempat turun pada Maret lalu. Di sisi lain, harga barang inti diprediksi tetap stabil setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sejumlah kebijakan tarif.

Profesor Universitas Loyola Marymount Sung Won Sohn menekankan bahwa kenaikan harga pangan dan bensin paling dirasakan oleh masyarakat kelas pekerja.

"Mereka hidup dengan harga bensin yang lebih tinggi, mereka hidup dengan harga bahan makanan yang lebih tinggi, dan mereka terkena dampaknya," ujar dia.

Para ekonom dari Wells Fargo juga memperingatkan bahwa kenaikan biaya transportasi akan segera merembet pada harga pangan. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan ketidakpuasan rumah tangga di seluruh penjuru Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi