Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan penambahan 172.000 pekerjaan pada Mei 2026 yang memicu lonjakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan menekan mata uang serta saham di pasar negara berkembang pada Jumat (6/6).
Laporan penambahan lapangan kerja yang mencapai dua kali lipat perkiraan pasar tersebut mempertahankan tingkat pengangguran AS di level 4,3 persen. Kondisi pasar tenaga kerja yang solid dalam tiga bulan terakhir ini menggeser perhatian para pejabat bank sentral kembali pada penanganan inflasi yang masih tinggi.
Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack memberikan penilaian mengenai situasi terkini penyerapan tenaga kerja yang mendekati kondisi optimal.
"Ini tepat berada di sekitar definisi saya tentang lapangan kerja penuh," kata Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack.
Hammack kemudian menyoroti perkembangan inflasi yang masih terus merayap naik dan potensi perlunya tindakan kebijakan moneter lebih lanjut.
"Sebaliknya, inflasi menceritakan kisah yang berbeda. Inflasi tinggi, dan terus meningkat. Jika tren terkini berlanjut, mungkin akan segera tepat untuk mengambil tindakan," kata Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack.
Kepala Ekonom Amerika Utara untuk Capital Economics Stephen Brown memberikan analisis tertulis bahwa data ketenagakerjaan terbaru ini menyulitkan komite kebijakan moneter untuk mengabaikan tekanan inflasi.
"Kenaikan berturut-turut ketiga dalam jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian pada bulan Mei yang melampaui konsensus seharusnya semakin mengurangi kekhawatiran di antara FOMC tentang risiko penurunan pasar tenaga kerja, sehingga semakin mempersulit The Fed untuk mencoba mengabaikan tingkat inflasi inti dan inflasi utama yang tinggi," tulis Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara untuk Capital Economics.
Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyatakan perubahan pandangannya yang kini tidak lagi mengesampingkan opsi peningkatan biaya pinjaman jika inflasi domestik tidak kunjung mereda.
"Saya tidak bisa lagi mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa mendatang jika inflasi tidak segera mereda," kata Gubernur The Fed, Christopher Waller.
Juru Bicara IMF Julie Kozack pada hari Kamis menjelaskan adanya penundaan perkiraan waktu kembalinya inflasi AS ke target dua persen akibat pengaruh konflik yang melibatkan Iran.
"Jadi, kami sekarang sedikit menunda kembalinya ke target," kata Juru Bicara IMF, Julie Kozack.
Presiden Federal Reserve Kansas City Jeffrey Schmid melemparkan pertanyaan retoris mengenai tingkat kesabaran bank sentral dalam menghadapi laju inflasi yang berada di kisaran 3,50 persen.
"Pertanyaan besar sekarang adalah apakah kita akan tetap sabar?" kata Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid.
Schmid menambahkan penjelasan mengenai ketidakpuasan terhadap angka inflasi yang berkembang saat ini.
"Angka inflasi kita mungkin telah merayap naik ke kisaran 3,50%, yang tidak disukai siapa pun," kata Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, rilis data ekonomi AS ini berdampak langsung pada penurunan indeks saham pasar negara berkembang sebesar 2,4 persen, yang dipimpin oleh koreksi saham teknologi kecerdasan buatan Asia.
Kepala strategi investasi di Saxo Markets Charu Chanana menjelaskan bahwa koreksi tajam dipicu oleh tingginya ekspektasi pasar terhadap sektor kecerdasan buatan menyusul proyeksi penjualan chip Broadcom Inc yang mengecewakan.
"Broadcom menjadi pemicu yang mengingatkan pasar betapa tinggi ekspektasi yang telah terbentuk," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets.
Chanana menjabarkan bagaimana reaksi pasar modal terhadap perkembangan sekecil apa pun di sektor kecerdasan buatan tersebut.
"Investor telah memperhitungkan banyak hal yang sempurna seputar AI, sehingga kekecewaan sekecil apa pun dapat menyebabkan koreksi yang cukup tajam," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets.
Di tengah pelemahan massal aset pasar berkembang, rupee India menjadi satu-satunya mata uang yang menguat hingga 0,9 persen setelah pemerintah dan bank sentral India meluncurkan paket kebijakan darurat untuk membendung pelarian modal asing.