Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mengalami defisit sebesar Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto hingga akhir April 2026, seperti dilansir dari Money.
Kondisi keuangan negara tersebut dipicu oleh realisasi belanja negara yang membengkak melebihi perolehan pendapatan negara hingga periode empat bulan pertama tahun ini.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kinerja keuangan ini membantah penilaian negatif para ekonom dan analis mengenai kondisi kas negara pada bulan sebelumnya.
"Sampai April 2026, defisitnya tinggal 164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kondisi APBN ke depan terus menguat berkat topangan keseimbangan primer dan perolehan pendapatan negara yang menunjukkan kinerja solid.
Realisasi pendapatan negara tercatat menyentuh angka Rp918,4 triliun dengan kontribusi utama dari sektor perpajakan sebesar Rp746,9 triliun, yang terdiri atas penerimaan pajak Rp646,3 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp100,6 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara yang bersumber dari belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah dipastikan telah menyerap dana sebesar Rp1.082,8 triliun dari pagu anggaran yang ditetapkan.
Rincian belanja pemerintah pusat mencakup serapan anggaran kementerian atau lembaga sebesar Rp400,5 triliun serta belanja non-kementerian atau lembaga yang menembus Rp425,5 triliun.
Hingga akhir April 2026, Kementerian Keuangan juga membukukan posisi keseimbangan primer pada angka Rp28 triliun dan realisasi pembiayaan anggaran yang mencapai Rp298,5 triliun.