Defisit APBN Maret 2026 Capai Rp 240,1 Triliun

Defisit APBN Maret 2026 Capai Rp 240,1 Triliun

Kementerian Keuangan mencatatkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Maret 2026. Realisasi ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta Pusat pada Selasa (5/5/2026).

Dilansir dari Detik Finance, pemerintah berkomitmen untuk mengendalikan defisit tersebut agar tetap berada di bawah ambang batas tiga persen sesuai dengan desain fiskal yang telah ditetapkan. Purbaya menegaskan bahwa persentase defisit tidak dapat diproyeksikan secara linier dengan mengalikan angka triwulan tersebut menjadi setahun penuh.

"Surplus dan defist, mencapai Rp 240,1, itu defisti, itu 0,93% dari PDB. Tapi nanti jangan dikali 4, karena setiap tahun akan beda belanjanya dan siklus incomenya beda, siklus belanjanya beda, yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3% sesuai dengan desain APBN," kata Purbaya, Menteri Keuangan.

Penegasan tersebut diberikan untuk menghindari kesalahan interpretasi oleh pelaku pasar mengenai proyeksi anggaran tahunan. Menurut Purbaya, pergerakan APBN bersifat fluktuatif mengikuti siklus pendapatan dan belanja negara yang tidak selalu sama di setiap bulannya.

"Jadi defisit Rp 240,1 itu 0,93%. Kalo dikali 4 berapa? Orang di pasar kan gitu ngalinya empat, itu 3,6% katanya. Itu itungannya ngaco, karena APBN turun naik, income juga naik, ada siklusnya," sambung Purbaya, Menteri Keuangan.

Berdasarkan data kinerja, pendapatan negara mengalami pertumbuhan sebesar 10 persen secara tahunan menjadi Rp 574,9 triliun. Capaian ini didorong oleh penerimaan perpajakan yang naik 14 persen menjadi Rp 462 triliun, di mana sektor pajak menyumbang Rp 394,8 triliun atau tumbuh sebesar 20,7 persen.

Pada sisi pengeluaran, belanja negara tercatat sangat ekspansif dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 31,4 persen menjadi Rp 815 triliun secara tahunan. Kenaikan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 1,4 persen.

"Belanja negara kita sampai dengan Maret tumbuh 31%, ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang tumbuh 1,4%. Ini yang saya bilang tadi pemerataan belanja sepanjang tahun," tutup Purbaya, Menteri Keuangan.

Strategi belanja yang lebih agresif di awal tahun ini diklaim sebagai upaya pemerintah dalam melakukan pemerataan penyerapan anggaran sepanjang tahun berjalan 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi