Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal I 2026 Membengkak USD9,1 Miliar

Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal I 2026 Membengkak USD9,1 Miliar

Kondisi neraca pembayaran Indonesia (BoP) mengalami tekanan hebat pada tiga bulan pertama tahun ini. Seperti diberitakan oleh Medcom, defisit neraca pembayaran tercatat menembus angka USD9,1 miliar pada kuartal pertama 2026.

Situasi ini dipicu oleh eskalasi tekanan eksternal, perlambatan roda ekonomi global, serta tingginya gejolak di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut berimbas pada pelebaran defisit transaksi berjalan.

Rasio defisit transaksi berjalan merosot ke angka 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB), setelah sebelumnya berada di level 0,7%. Penurunan ini menjadi rekor defisit terdalam sejak periode kuartal ketiga tahun 2020.

Secara nominal, angka defisit yang mencapai USD4,0 miliar ini menjadi nilai terbesar sejak penghujung tahun 2019. Penurunan kinerja ini dipengaruhi oleh dua faktor utama di sektor perdagangan.

Research Analyst di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menuturkan penurunan ini terutama disebabkan oleh menyempitnya surplus perdagangan nonmigas serta melebarnya defisit pendapatan primer.

Aktivitas ekspor terhambat akibat menyusutnya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia, meliputi Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Di sisi lain, tingginya suku bunga global mengatrol beban pembayaran bunga serta kupon utang pemerintah.

"Tekanan eksternal terutama dipicu oleh melemahnya ekspor komoditas, khususnya batu bara, mineral, dan sejumlah produk manufaktur yang sangat sensitif terhadap siklus ekonomi global," kata dia dalam risetnya.

Pertumbuhan ekspor nonmigas tertahan di angka 1,2% secara tahunan (YoY). Sebaliknya, angka impor melonjak hingga 11,5% YoY yang didorong oleh tingginya permintaan komoditas bahan baku dan barang modal.

Ketimpangan ini berdampak langsung pada penyusutan surplus perdagangan sekaligus meningkatkan kebutuhan pembiayaan dari luar negeri. Pada periode yang sama, neraca modal dan finansial berbalik membukukan defisit.

Sektor modal dan finansial mencatat defisit sebesar USD4,9 miliar pada kuartal pertama 2026. Angka ini berbanding terbalik dari torehan kuartal keempat tahun 2025 yang sempat membukukan surplus senilai USD9,0 milar.

Pembalikan arus portofolio ini mencerminkan sikap pasar global yang cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian. Tren tekanan terhadap stabilitas eksternal ini diproyeksikan masih akan berlangsung lama.

Tingginya harga energi di pasar global, ketidakjelasan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), serta pelambatan ekonomi Tiongkok diprediksi menjadi faktor penekan utama ke depan.

Untuk keseluruhan tahun fiskal 2026, defisit transaksi berjalan diprediksi akan bertengger pada rentang 0,5% sampai 1,3% dari PDB. Risiko pembengkakan mengarah ke batas atas jika kinerja ekspor komoditas terus melemah.

Memasuki kuartal kedua 2026, defisit transaksi berjalan berpotensi semakin melebar akibat siklus musiman. Faktor pemicunya meliputi aktivitas repatriasi dividen ke luar negeri dan lonjakan permintaan valuta asing untuk kebutuhan musim Haji.

Kombinasi faktor-faktor musiman tersebut turut menjadi penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini. Secara historis sejak 2023, tren neraca transaksi berjalan kuartal kedua selalu lebih rendah dari kuartal pertama.

Rilis data resmi untuk performa kuartal kedua 2026 dijadwalkan meluncur pada Agustus mendatang. Meskipun menghadapi tekanan, posisi cadangan devisa nasional dilaporkan masih berada di level aman sebesar USD148,2 miliar per Maret 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi