Ibu rumah tangga di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor berhasil mengubah permasalahan limbah menjadi sumber ekonomi melalui Bank Sampah Asri Mandiri pada Rabu (28/4/2026). Program pengelolaan sampah mandiri tersebut kini memfasilitasi warga untuk mengonversi hasil penjualan sampah menjadi saldo tabungan emas.
Inisiatif ini muncul sejak akhir 2013 saat desa mengalami kendala pembuangan sampah akibat penutupan TPA Galuga. Pengurus RT yang mayoritas perempuan kemudian bersepakat mengelola sampah secara swadaya guna mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Ketua Pengelola Bank Sampah Asri Mandiri, Sri Asih menceritakan awal berdirinya unit tersebut yang lahir dari kesadaran untuk memitigasi tumpukan sampah di lingkungan pemukiman mereka.
"Dari situ kita berpikir bagaimana cara mengurangi sampah dari sumbernya. Maka dibentuklah bank sampah ini," kenang Sri Asih, Ketua Pengelola Bank Sampah Asri Mandiri.
Operasional awal dilakukan dengan meminjam peralatan milik petani setempat untuk menimbang setoran warga. Meskipun sempat mengalami penurunan minat nasabah pada tahun ketiga, para pengurus tetap konsisten membuka layanan meski hanya mengolah sampah internal pengelola.
"Jadi kita bertekad. Mau ada yang nimbang apa enggak, pokoknya harus tetap buka," tegas Sri Asih.
Strategi jemput bola dan pemberian insentif dilakukan untuk menarik kembali minat masyarakat. Pengelola kerap memberikan hadiah bagi penimbang tercepat atau nasabah dengan volume setoran terbanyak dalam satu periode.
"Kita cari ide bagaimana agar nasabah tertarik lagi. Kadang kita cari donatur untuk buat doorprize. Misalnya, sepuluh penimbang pertama dapat hadiah apa, atau penimbang paling banyak hari itu dapat apa," ungkap Sri Asih.
Keberhasilan mengelola hingga satu ton sampah per bulan menarik perhatian PT Pegadaian yang kemudian menjadikan unit ini sebagai binaan pada 2019. Melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR), bank sampah menerima bantuan bangunan fisik dan kendaraan pengangkut.
"Tahun 2019, Pegadaian meluncurkan program 'Memilah Sampah Menabung Emas'. Kita dapet selebarannya, lalu kita hubungi Pegadaian Bogor untuk ikut," tutur Sri Asih.
Kerja sama tersebut memungkinkan dana yang mengendap di buku tabungan nasabah dialihkan menjadi aset emas. Hal ini memudahkan pengurus dalam mengelola likuiditas dana masyarakat yang sering kali tidak segera ditarik oleh pemiliknya.
"Ya. Kalau CSR memang nggak boleh dalam bentuk uang," kata Sri Asih.
Sri Asih menjelaskan bahwa mayoritas nasabah merasa terbantu dengan pilihan investasi emas dibanding sekadar menyimpan uang tunai di kantor bank sampah.
"Di sini itu, nasabahnya berbeda dengan tempat-tempat yang lain. Mungkin kalau yang lain itu, mereka uangnya diambil. Kalau di sini nggak. Tabungan nasabah itu (dibiarkan) numpuk di las bank sampah," jelas Sri Asih.
Selain investasi jangka panjang, hasil dari pengolahan sampah ini terbukti mampu membantu kebutuhan mendesak warga kelas ekonomi bawah, seperti renovasi rumah.
"Untungnya dengan adanya Pegadaian, ada fasilitas tabungan emas. Jadi, tabungan nasabah yang numpuk itu kita tawarkan ke nasabah, mau nggak dibelikan emas? alhamdulillah, kebanyakan mau, karena memang nggak diambil tabungan mereka itu," tambahnya.
Salah satu kejadian yang berkesan bagi pengelola adalah ketika seorang asisten rumah tangga berhasil memperbaiki atap rumahnya yang bocor menggunakan uang tabungan hasil mengumpulkan sampah harian.
"Saya pikir tersinggung divideoin, ternyata tuh enggak. Saking terharu, ART bisa benerin rumah dari sampah," tuturnya.
Ketua Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat menambahkan bahwa bank sampah ini telah berkembang menjadi pusat edukasi nasional. Unit ini juga memiliki lini bisnis produk daur ulang bermerek Hejona yang memproduksi kerajinan dari limbah plastik.
"Alhamdulillah mereka sering ikut lomba dan selalu juara. Lomba olahan daur ulang, menang juara dua. Tata kelola bank sampah juara satu. Kemudian video apresiasi dapat juga juara satu. PSN edukasi, dapat juara tiga," jelas Wahyu Syarief Hidayat.
Atas kontribusi tersebut, Desa Benteng meraih penghargaan Desa BRILiaN dari BRI dan berhak atas dana hibah Rp 1 miliar untuk pengembangan infrastruktur desa. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya menegaskan pentingnya penguatan kapasitas ekonomi berbasis potensi lokal.
"Melalui program Desa BRILiaN, BRI mendorong desa-desa untuk dapat mengoptimalkan potensi ekonomi secara berkesinambungan, memanfaatkan layanan keuangan perbankan khususnya BRI, serta meningkatkan pemahaman dalam penyusun laporan keuangan," ujar Akhmad Purwakajaya.
Program pemberdayaan ini terus diperluas oleh pihak perbankan guna menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia. Hingga tahun 2025, tercatat lebih dari 5.200 desa telah tergabung dalam jaringan pembinaan tersebut.