Mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia (AUD), dolar Selandia Baru (NZD), dan dolar Kanada (CAD) kini sedang dibayangi tekanan berat. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Investasi, pelemahan ini terjadi di tengah keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya ketidakpastian global.
Para pelaku pasar saat ini cenderung mengalihkan dana mereka ke aset aman atau safe haven. Langkah tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap inflasi AS yang kembali mendaki serta eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini membuat indeks dolar AS (DXY) kokoh bertahan di level tinggi pada posisi 99,157. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (18/5/2026) pukul 17.00 WIB, pasangan AUD/USD melemah 1,30% secara mingguan dan merosot 0,32% dalam sebulan terakhir ke level 0,7156.
Koreksi yang lebih dalam dialami oleh pasangan NZD/USD yang terpangkas 1,80% dalam sepekan serta turun 0,60% secara bulanan ke posisi 0,5857. Sementara itu, pasangan USD/CAD justru menguat 0,46% secara mingguan dan naik 0,70% dalam sebulan ke level 1,3737, yang mengindikasikan pelemahan dolar Kanada terhadap dolar AS.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengonfirmasi bahwa situasi ini memicu fenomena risk-off di pasar keuangan global. Dampaknya, indeks dolar AS berpotensi menguat menuju level psikologis 99 hingga 100.
"Pemicu utama adalah memanasnva inflasi AS dan ketahanan data ekonomi domestik AS yang memaksa Federal Reserve (The Fed) mempertahankan sikap hawkish. Pasar bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan (rate hike) di sisa tahun 2026," ujar Wahyu.Menurut analisis Wahyu, ekspektasi suku bunga tinggi di AS mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Hal ini memperlebar selisih suku bunga dengan negara lain, sehingga arus modal global kembali mengalir ke aset berdenominasi dolar AS.
Situasi tersebut membuat AUD, NZD, dan CAD selaku mata uang yang sensitif terhadap siklus ekonomi menjadi rentan. Tekanan makin besar karena perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat inflasi dan pengetatan kebijakan moneter.
Meskipun harga energi seperti minyak mentah melonjak akibat konflik geopolitik, dampaknya tidak sepenuhnya menguntungkan mata uang komoditas. Bagi AUD dan NZD, tingginya biaya energi justru berisiko menekan profitabilitas industri domestik serta daya beli masyarakat.
Wahyu menilai valuta asing komoditas masih menarik untuk dipantau, namun investor harus lebih selektif. Strategi investasi perlu mencermati arah kebijakan bank sentral setiap negara dan kondisi fundamental ekonomi mereka.
Di antara ketiganya, AUD dianggap memiliki prospek paling menarik yang kemudian diikuti oleh CAD. Di sisi lain, NZD dipandang sebagai mata uang yang paling rentan dalam jangka pendek.
Potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Australia untuk meredam inflasi menjadi penyokong utama bagi AUD. Kondisi ekonomi Australia yang relatif stabil juga berpeluang mendukung penguatan AUD saat tekanan dolar AS mulai mereda.
Sementara itu, CAD mendapatkan keuntungan dari tingginya harga minyak global karena Kanada berstatus sebagai negara eksportir energi.
"Lonjakan harga minyak mentah diperkirakan memberi bantalan terhadap CAD, sehingga tekanan pelemahannya relatif lebih terbatas," jelas Wahyu.Sebaliknya, NZD harus menghadapi tantangan besar dari perlambatan ekonomi domestik dan kenaikan biaya hidup yang memicu risiko stagflasi. Bagi investor jangka panjang, Wahyu menyarankan strategi buy on weakness.
Langkah ini didasari oleh tesis pelemahan struktural dolar AS dalam jangka menengah akibat beban defisit anggaran AS. Selain itu, ada potensi jenuhnya pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed di masa depan.
Untuk proyeksi semester I-2026, pasangan AUD/USD diperkirakan bergerak dalam rentang 0,6800–0,7650 dengan peluang menguat jika bank sentral Australia menaikkan suku bunga. Pasangan NZD/USD diprediksi berada di kisaran 0,5500–0,6150 dengan volatilitas tinggi, sedangkan USD/CAD diperkirakan bergerak terbatas pada rentang 1,3400–1,4150.