Nilai tukar EURUSD mengalami tekanan jual hingga berada di bawah level resistansi 1,1780 pada Senin, 11 Mei 2026, menyusul penguatan Dolar AS yang dipicu oleh konflik energi di Iran dan ekspektasi kebijakan moneter hawkish dari Federal Reserve.
Gejolak energi di Timur Tengah telah mendorong investor mengalihkan modal ke aset aman, sementara data tenaga kerja Amerika Serikat yang stabil memperkuat posisi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna meredam inflasi. Berdasarkan data ekonomi terbaru, pasar kini mengantisipasi potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut jika harga minyak terus melambung akibat gangguan di Selat Hormuz.
Pimco, salah satu manajer investasi terbesar di dunia, memberikan penilaian strategis terhadap situasi pasar saat ini melalui analisis fundamental mereka.
"gangguan energi bisa mendorong The Fed untuk lebih hawkish, sehingga mendukung penguatan dolar." kata perwakilan Pimco sebagaimana dilansir cetro.or.id.
Analisis teknikal menunjukkan EURUSD memasuki fase korektif setelah gagal menembus area resistansi di kisaran 1,17729 hingga 1,17823. Kondisi ini menciptakan struktur bearish intraday yang dapat mendorong harga menuju level kunci yang lebih rendah jika tren penguatan Dolar AS berlanjut.
Di sisi lain, Joseph Brusuelas selaku Kepala Ekonom di RSM US, memberikan pandangannya terkait stabilitas pasar tenaga kerja Amerika Serikat pasca rilis data non-farm payrolls April yang mencatat kenaikan 115.000 pekerjaan.
"pasar tenaga kerja AS tetap stabil dan kuat, dan bahwa The Fed tidak memiliki banyak dasar untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat dalam konteks saat ini." kata Joseph Brusuelas.
Brusuelas menambahkan bahwa perkembangan data ketenagakerjaan ini kemungkinan besar akan menjadi pertimbangan utama bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan pelonggaran moneter pada pertemuan bulan Juni mendatang. Sementara itu, Chris Kampitsis dari Barnum Financial Group memprediksi langkah bank sentral dalam jangka pendek.
"The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah dalam jangka pendek untuk terus memantau perkembangan inflasi dan dampak kenaikan harga minyak." ujar Chris Kampitsis.
Ketidakpastian juga menyelimuti kawasan Asia, di mana analis senior dari Capital.com, Kyle Rodda, mengamati reaksi pasar terhadap sinyal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mendinginkan harga minyak mentah US WTI ke posisi 100 dolar per barel.
"sinyal dari AS agak meyakinkan pasar bahwa Washington tidak ingin melanjutkan aksi militer skala besar." kata Kyle Rodda.
Meskipun terdapat upaya deeskalasi, Rodda memperingatkan bahwa risiko gangguan pasokan energi masih tetap ada karena Selat Hormuz belum sepenuhnya beroperasi normal. Di Singapura, bank OCBC memperkirakan pasangan USD/SGD akan bergerak dalam rentang terbatas namun dengan kecenderungan melemah bagi Dolar AS terhadap Dollar Singapura karena kebijakan hawkish dari Monetary Authority of Singapore (MAS).
Data pergerakan nilai tukar di pasar domestik Vietnam juga menunjukkan fluktuasi tipis di mana Bank Negara Vietnam menetapkan nilai tukar sentral pada 25.113 VND per USD pada 11 Mei 2026.
| Bank | Harga Beli (VND) | Harga Jual (VND) |
|---|---|---|
| Vietcombank | 26.108 | 26.368 |
| Vietinbank | 25.975 | 26.368 |
| Techcombank (50-100 USD) | 26.126 | 26.366 |
Hingga Minggu malam, harga jual USD di pasar bebas Vietnam tercatat turun menjadi 26.470 VND, atau melemah 30 VND dibandingkan sesi sebelumnya seiring dengan meredanya spekulasi kenaikan suku bunga segera berdasarkan alat CME FedWatch.