DPR Tegaskan Indonesia Tidak Akan Bangkrut Karena Kaya SDA

DPR Tegaskan Indonesia Tidak Akan Bangkrut Karena Kaya SDA

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mengalami kebangkrutan berkat kelimpahan sumber daya alam yang dimiliki negara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Jogja Financial Festival pada Sabtu (23/5/2026).

Kekayaan alam tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemasok utama global untuk beberapa komoditas penting. Seperti dilansir dari Detik Finance, Indonesia menyuplai 43 persen batu bara, 40 persen minyak sawit mentah (CPO), dan lebih dari 60 persen nikel untuk kebutuhan dunia.

"Kalau ada orang yang mengatakan APBN kita bangkrut, nggak mungkin kita bangkrut. Bayangkan Indonesia ini 43% batu bara dunia itu disuplai oleh Indonesia. CPO 40%, nikel bahkan melebihi 60%," ungkap Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR.

Komoditas strategis lain yang turut memperkuat fondasi ini meliputi karet, kopi, hingga hasil perikanan laut. Masalah pemungutan pajak dan pengelolaan nilai tukar mata uang disebutnya sebagai persoalan teknis pengambilan kebijakan moneter semata.

"Negara sekaya Indonesia tidak mungkin akan menjadi negara yang bangkrut, ada persoalan bagaimana kita mengumpulkan pajak itu persoalan negara, ada bagaimana kita ma-manage nilai tukar, itu persoalan pengambilan kebijakan di sektor moneter. Tetapi negara ini terlalu kaya untuk dikatakan sebagai negara yang akan mempunyai posisi bangkrut," tegas Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR.

Ketangguhan ekonomi nasional juga tecermin dari posisi Indonesia di jajaran negara G20 yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Selain itu, performa neraca perdagangan Indonesia terus menunjukkan tren positif melalui capaian surplus selama 71 bulan berturut-turut.

Kekhawatiran masyarakat mengenai potensi terulangnya krisis moneter tahun 1998 dinilai lebih banyak dipicu oleh pengaruh konsumsi media sosial. Narasi di platform digital tersebut dianggap telah membentuk sentimen tersendiri yang memengaruhi persepsi terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara fundamental versus sentimen, realitas melawan media sosial," pungkas Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR.

Artikel terkait

Rekomendasi