Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI August Hamonangan menyoroti efektivitas penanganan banjir oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dinilai belum optimal meskipun telah mengucurkan anggaran triliunan rupiah. Berdasarkan laporan pada Selasa (5/5/2026) pagi, tercatat sebanyak 115 rukun tetangga di wilayah Jakarta masih terendam banjir.
Kritik tersebut muncul seiring dengan besarnya alokasi dana pengendalian banjir yang mencapai Rp 2,6 triliun dalam APBD Perubahan 2025 dan Rp 2,8 triliun pada APBD 2026. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, total anggaran untuk mengatasi luapan air tersebut menyentuh angka Rp 5,4 triliun namun dampak nyata di lapangan dianggap belum maksimal.
"Banjir sudah dianggap sebagai bagian dari nasib Jakarta, maka permasalahannya tidak ditangani dengan baik," kata August dalam keterangannya, dikutip Kompas.com pada Kamis (7/5/2026).
Politisi PSI tersebut memberikan penegasan mengenai adanya pergeseran prioritas kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini. Ia menilai pemimpin daerah cenderung fokus pada aspek estetika kota dibandingkan penyelesaian masalah mendasar seperti banjir.
"Mas Gubernur sekarang malah lebih banyak berpikir bagaimana caranya untuk mempercantik kota, mengundang band-band penyanyi internasional, sampai dengan mengadakan balapan F1," katanya.
Selain kritik terhadap kebijakan umum, August juga menyentil situasi banjir yang masih terus berulang dengan sebuah pernyataan sarkastik. Ia membandingkan antara agenda balapan internasional dengan kondisi genangan yang merendam permukiman warga.
"Kita balapan di kawasan banjir saja kalau begitu," ujarnya.
Sebagai langkah solutif, August mendorong percepatan normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur pendukung lainnya untuk meminimalisir risiko luapan air ke rumah warga. Percepatan ini dianggap krusial agar pengerjaan tidak terbengkalai dalam waktu yang terlalu lama.
"Yang jelas, normalisasi kali harus disegerakan. Menurut saya, itu tidak akan memakan waktu yang lama sampai bertahun-tahun," katanya.
Legislator tersebut juga menekankan pentingnya penguatan sistem drainase melalui penambahan mesin penyedot air di titik-titik rawan genangan. Ia berharap kapasitas saluran air di Jakarta diperluas untuk menampung debit air yang tinggi saat hujan lebat terjadi.
"Kita juga perlu menambah pompa-pompa air, membersihkan saluran-saluran air, kalau perlu memperlebarkannya supaya air tidak menumpuk," ucap August.
Data terkini menunjukkan dampak banjir paling signifikan terjadi di Jakarta Selatan dengan 78 RT yang tergenang, terutama di Kelurahan Petogogan, Bangka, dan Rawajati. Hingga saat ini, sebanyak 118 warga dilaporkan masih berada di lokasi pengungsian akibat rumah mereka yang tidak dapat ditempati.