DPRD Jakarta Dorong Pemprov Percepat Teknologi Pengolahan Sampah

DPRD Jakarta Dorong Pemprov Percepat Teknologi Pengolahan Sampah

Anggota DPRD Jakarta dari Fraksi PDI-P Hardiyanto Kenneth mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercepat pengembangan teknologi pengolahan sampah modern pada Minggu (17/5/2026). Langkah ini didesak demi mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sekaligus menekan emisi gas metana.

Aksi dorongan tersebut muncul setelah TPST Bantargebang disorot sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia. Berdasarkan laporan Institut Emmett di Fakultas Hukum University of California Los Angeles (UCLA) yang dilansir dari Megapolitan, tempat pembuangan tersebut berada di peringkat kedua global.

"Kita harus berani berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan. Banyak negara sudah menjadikan sampah sebagai sumber energi dan sumber ekonomi baru, seperti Swedia, Singapura hingga Jepang dan China," ujar Kenneth, Anggota DPRD Jakarta.

Kondisi TPST Bantargebang dinilai menjadi peringatan serius bagi Jakarta untuk segera mengubah pola pengelolaan sampah yang lama. Kenneth menegaskan bahwa fasilitas modern seperti Refuse Derived Fuel (RDF), waste to energy, pengomposan skala besar, hingga penangkapan gas metana perlu segera direalisasikan.

"Jakarta juga sudah harus bergerak ke arah sana. Skenario penangkapan gas metana salah satunya, jangan sampai hanya dibiarkan terlepas ke udara dan malah bisa memperparah pemanasan global," kata Kenneth, Anggota DPRD Jakarta.

Akumulasi ribuan ton sampah per hari di Bantargebang terus memicu produksi gas metana yang masif. Kebijakan transformasi dinilai krusial agar masalah lingkungan ini tidak menjadi beban bagi generasi mendatang.

"Kalau situasi ini dibiarkan tanpa transformasi kebijakan yang serius, maka kita sedang mewariskan bom waktu permasalahan lingkungan kepada anak cucu kita," ujar Kenneth, Anggota DPRD Jakarta.

Selain pembenahan teknologi oleh pemerintah, partisipasi aktif warga kota dalam memilah sampah juga menjadi faktor krusial. Kenneth menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dari lingkup rumah tangga untuk mengurangi volume sampah.

"Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting. Kita harus mulai membangun budaya memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperkuat ekonomi sirkular, dan menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan kolektif warga kota," kata Kenneth, Anggota DPRD Jakarta.

Dalam laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025; Landfills yang dirilis pada 20 April 2026, Institut Emmett Fakultas Hukum UCLA mencatat emisi Bantargebang mencapai sekitar 6,3 ton per jam. Angka ini berada di bawah TPA Campo de Mayo di Argentina yang menghasilkan 7,6 ton per jam.

"Meskipun banyak tempat pembuangan akhir hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam, tempat-tempat dalam daftar ‘25 teratas’ kami mengeluarkan jauh lebih banyak," tulis laporan Institut Emmett di Fakultas Hukum UCLA.

Data emisi tersebut diperoleh melalui pemantauan satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional sepanjang tahun 2025. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disebut sebagai operator yang berpotensi bertanggung jawab atas emisi di lokasi tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi